PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Kemelut Pengawasan Tambang, Anggota Dewan Ini Desak Kadis ESDM Kaltim Mundur

Home Berita Kemelut Pengawasan Tamban ...

Kemelut Pengawasan Tambang, Anggota Dewan Ini Desak Kadis ESDM Kaltim Mundur
Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Baharuddin Demmu. (Dok.EKSPOSKaltim)

EKSPOSKALTIM.com, Samarinda - Persoalan tambang batu bara di Kaltim kembali menjadi sorotan yang tak kunjung diselesaikan. Baru- baru ini, kembali terjadi peristiwa tenggelam di lubang tambang yang memakan korban jiwa hingga temuan aktivitas pertambangan batu bara di dekat pemukiman di Kota Samarinda.

Hal ini membuat Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Baharuddin Demmu geram. Ia pun mendesak instansi terkait yang menangani hal tersebut untuk mundur dari jabatannya.

Baca juga: Kepsek Terbaik se-Kaltim Ungkap Rahasia Sekolahnya Juara 1 Budaya Mutu Nasional

"Kalau tidak sanggup mundurlah, dari pada korban jiwa terus. Apalagi dia (Kepala Dinas ESDM) bilang di media tidak sangup sendiri, ya mundurlah, lebih bagus mungkin, dari pada banyak orang meninggal (akibat lubang tambang),” imbuhnya.

Desakan tersebut bukan tanpa hal. Ia menilai, pemerintah telah gagal dalam hal pengawasan pertambangan batu bara. Khusunya terkait banyaknya lubang bekas tambang yang tak direklamasi yang mengakibatkan terus berulang korban tenggelam di lubang tambang.

Ia menuding Kepala Dinas ESDM Kaltim Wahyu Widhi Heranata belum menunjukan keseriusan menangani persoalan ini.

“Saya bilang kalau sebatas tinjau, ok, tapi bukan itu penyelesaian masalahnya. Kalau anak anak mati ditinjau, ya mati terus anak orang. Itu bukan penyelesaiannya,” cetus Demmu.

Ia lagi-lagi memgusulkan, Dinas ESDM seharusnya mengidentifikasi lubang tambang lalu memaksa perusahaan untuk menutup bekas galiannya.

Tak hanya itu, ia juga menyinggung semrawutnya aturan lokasi pertambangan. Dimana banyak lokasi yang berdekatan dengan pemukiman atau bumper zone.

Baca juga: Pajak Bumi dan Bangunan Tahun 2019 di Samarinda Naik

“Modelnya itu mau 1.000 meter kah mau 5 kilometer kah, kalau lubang tidak ditutup, ya korban jatuh lagi,” ujarnya.

Lebih jauh, Bahar beranggapan, jika aktivitas pertambangan di Samarinda yang notabenenya ibukota provinsi saja tak ketat, apalagi pengawasan di daerah lainnya yang tentu luput dari pengawasan. Untuk itu ia mengusulkan, agar ditambang personel inspektur pertambangan dan mempublis hasil pengawasannya secara berkala kepada rakyat.

“Saya melihat mereka tidak berguna karena hampir setiap bulan ada korban jiwa. Jangan lepas tanggung jawab," tandasnya. (*)


Editor : Abdullah
Tags : \\

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :