EKSPOSKALTIM.com, Samarinda - Peresmian Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) di Kabupaten Kutai Timur oleh Presiden Joko Widodo, Senin (1/4) membawa angin segar bagi kepastian investasi di Kaltim. Direncanakan, sebesar Rp 15 triliun investasi bakal masuk ke KEK MBTK tersebut.
Direktur Utama Perusda Melati Bhakti Satya (MBS) Agus Dwitarto menegaskan, saat ini sudah mendaftar tiga perusahaan dalam negeri yang akan menginvestasikan dana mereka sekitar Rp 15 triliun.
Baca juga: Sekretaris Komisi A DPRD Kutim Prihatin Gaji TK2D Molor
“Peresmian KEK MBTK merupakan buah kerja keras Pemprov Kaltim dan Pemkab Kutai Timur untuk memiliki kawasan ekonomi khusus kelas dunia,” ujarnya.
KEK MBTK, kata dia, memiliki daya dukung yang sangat bagus. Yakni pelabuhan bertaraf internasional dan kawasan industri juga bertaraf internasional.
“Daya tarik lainnya adalah setiap investor yang akan bekerja sama dengan berinvestasi, maka mereka akan dapatkan banyak kemudahan perizinan dan kemudahan perpajakan, berupa fasilitasi fiskal maupun non fiskal,” jelasnya.
Apalagi, sambungnya, KEK MBTK memiliki letak yang sangat strategis di Alur Laut Kepualan Indonesia (ALKI) II. Jalur ini menurutnya sangat prospektif untuk alur pengiriman barang menuju Amerika maupun negara-negara lain, seperti Australia, Jepang, Pakistan dan India.
“Perusahaan-perusahaan dalam negeri yang akan menanamkan investasi itu akan membangun industri CPO (crude palm oil) dan berbagai jenis turunannya (downstream). Di antaranya B20 dan minyak goreng,” bebernya.
Menurutnya, prospektif investasi perusahaan tersebut melihat sasarannya, agar wilayah timur Indonesia nantinya bisa mendapatkan kesempatan minyak goreng satu harga. Seperti halnya, BBM. Bukan itu saja, KEK MBTK pun siap mewujudkan program Kaltim sebagai lumbung energi nasional.
“Pada saatnya kita siap melakukan perdagangan high speed diesel (HSD). Tahun 2021 kita sudah targetkan untuk mengolah dan menampung HSD berstandar Euro 4 di KEK MBTK,” yakin Agus.
Jika kelak, lanjutnya, bisa dilakukan ekspor atau impor dengan kapasitas 750.000 m3 ton. "Tidak tertutup kemungkinan di Maloy akan dibangun fiuld storage integrated (penyimpanan cairan terintegrasi) yang akan menampung solar (biodiesel) berstandar Euro 4,” lanjutnya.
Jika proyeksi-proyeksi ini berjalan mulus, maka kehadiran KEK MBTK diyakini akan secara signifikan mendongkrak pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim.
“Sukses Maloy akan mendorong peningkatan ekonomi Kaltim dan tentunya rakyat akan lebih sejahtera,” tegasnya.
Diketahui, KEK MBTK juga didukung pelabuhan kargo dan rencana pembangunan jalur kereta api untuk angkutan batu bara bekerja sama dengan Russian Railways, BUMN Rusia.
KEK MBTK juga diperkuat jaringan distribusi air bersih dengan sambungan pipa sepanjang 28.728 meter. Sistem jaringan pipa transmisi air baku menggunakan sumber air dari Gunung Sekerat. Kebutuhan air bersih KEK MBTK diperkirakan mencapai 200 liter per detik.
Baca juga: Pupuk Kaltim Terima Dua Penghargaan ITECH
Sementara dari sisi geografis, KEK MBTK sangat strategis karena berada di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Dari jalur ini, pengiriman ekspor akan lebih cepat dan efisien, khususnya untuk kawasan China dan Korea Selatan.
Perbandingannya pun sangat jauh. Pengiriman melalui Surabaya atau Jakarta memerlukan waktu hingga 30 hari, sedangkan pengiriman langsung dari Kaltim cukup 9 hari.
Jika semua rencana berjalan lancar, maka investasi di KEK MBTK ini diprediksi mencapai puluhan triliun rupiah.
Pengembangan KEK MBTK pun selaras dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah Kaltim yang perlahan akan beralih kepada kekuatan ekonomi berbasis sumber daya alam terbarukan. Langkah ini juga serasi dengan hasil penelitian para pakar di antaranya peneliti dari Laboratory of Electric Machinery, Department of Electrical and Electronic Engineering, Kitami Institute of Technology, Hokaido Jepang, Marwan Rosyadi yang menyebutkan energi fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam akan berakhir pada tahun 2050. (*)

