18 Juni 2019
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Kanit Regident Paparkan Prosedur Pembuatan SIM


Kanit Regident Paparkan Prosedur Pembuatan SIM
Kanit Regident Satlantas Polres Bone Iptu Bakri. (EKSPOSKaltim/Abdullah)

EKSPOSKALTIM.com, Bone - Kanit Regident Satlantas Polres Bone Iptu Bakri menegaskan bahwa untuk memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) tidaklah mudah. Peserta uji SIM harus melewati beberapa item tes yang cukup menguras tenaga.

Namun sebelumnya, peserta uji SIM harus memenuhi syarat administrasi seperti cukup umur, memiliki surat keterangan dokter dan surat keterangan psychotest yang menyatakan bisa untuk diberikan Surat Izin Mengemudi.

Baca juga: Kapolres Bone Sidak Pelayanan SIM Satlantas

"Setelah itu lengkap, maka kesehariannya itu Kanit Regident memberikan pencerahan kepada peserta uji SIM tentang hal-hal yang akan diteskan," kata Iptu Bakri, Kamis (28/2) siang.

Pertama, peserta uji SIM setelah membayar PNBB-nya sesuai dengan jenis SIM yang dimohonkan, maka selanjutnya akan dites dengan ujian Avis (teori). Pada tes ini peserta akan menjawab benar atau salah, pertanyaan yang muncul di layar komputer.

"Pertanyaan-pertanyaan itu akan kedengaran melalui headset, kemudian dia (peserta) melihat, kemudian dialah yang menjawab. Ujian Avis ini terpusat, itu kendalinya dari Korlantas (Polri)," pungkasnya.

Peserta yang lulus pada ujian Avis ini selanjutnya akan mengikuti ujian simulator. Di ujian ini pengemudi akan dites menaiki kendaraan yang hampir sama dengan kendaraan yang ia bawa.

"Kalau motor, yah kayak motor juga simulasinya. Cuman itu tidak bergerak. Motornya tidak bergerak. Tapi ketika ia naik lalu menggerakkan stirnya, maka ia akan terlihat di monitor, ke kiri kah, ke kanan dan sebagainya," imbuhnya.

"Pada tes ini peserta akan diberikan beberapa problem ketika laik jalan di jalan, dan dia posisi sebagai pengendara, bagaimana tindakan yang harus dilakukan," sambungnya.

Setelah lulus di ujian simulator ini, lanjut Bakri, peserta kemudian masuk pada ujian prakter 1. Di praktek 1 ini ada 4 item yag harus dilalui. Pertama, penilaian sikap pengemudi yang benar.

"Belum naik ke kendaraan saja kita sudah bisa menilai bagaimana itu pengemudi yang benar, apakah ia safety riding atau tidak," ujarnya.

Ia menyebutkan, tes pertama pada ujian praktek 1 yakni menguji kelihaian peserta uji SIM berkendara menggunakan kendaraan kecepatan 30 km/jam, dengan garis batas ada 100 meter yang dibuat, dan berhenti pada batas yang telah ditentukan.

"Kalau dia pas berhenti dan tidak lewat dari garis, maka dikatakan lulus. Itu baru lulus item 1. Item 2 namanya siksak. Ada traffic cone dipasang. Ada 10 traffic cone dengan rumus panjang tambah lebar kendaraan, nah itu dia lewatin siksak. Kecepatan 1 sampai 20 km/jam, kalau tidak ada traffic cone yang jatuh maka ia lulus di situ," imbuhnya.

"Selanjutnya masuk pada angka 8. Angka 8 itu untuk dapat jari-jarinya panjang tambah lebar kendaraan, di jari-jarinya itu dibentuk angka 8. Nah di situ tiga kali harus berputar, peserta uji SIM dengan garis dan batas yang telah ditentukan, dan tidak boleh dia jatuh waktu turun."

Lepas dari item ini, peserta melanjutkan ke item tes selanjutnya yakni melihat kelihaian ketika berbelok kiri ataupun kanan. Peserta uji SIM juga akan dites berkendara pada medan yang menanjak.

"Dites ini peserta akan disuruh naik pada tanjakan, terus berhenti, kemudian naik kembali. kalau dia naik, berhenti kemudian mundur, maka itu juga poinnya akan turun," paparnya.

Setelah peserta mengikuti rangkaian tes pada ujian praktek 1, penguji selanjutnya akan meramu hasilnya untuk menentukan apakah peserta ini lolos atau tidaknya untuk masuk pada tes selanjutnya, yakni tes ujian praktek 2.

Pada ujian praktek 2 atau ujian terakhir ini, peserta akan bersama-sama dengan pengujinya, peserta uji SIM C (kendaraan bermotor) misalnya, ia akan membonceng pengujinya keluar ke jalan raya dan melewati beberapa rute yang telah ditentukan oleh penguji.

"Pada saat berjalan itu, penguji akan memberikan beberapa petunjuk kepada peserta uji SIM, ada yang benar dan ada yang salah. Di situlah kita menilai. Kalau diberi petunjuk salah baru dia kerjakan, maka dinilai dia tidak bisa taat dalam berkendara," imbuhnya.

Dari kesemua rangkaian tes tersebut, kata Bakri, saat ini ada dua item yang tidak berjalan yakni ujian simulator dan tes tanjakan pada ujian praktek 1. "Simulator itu kemarin ada kendala. Kalau tes tanjakan itu sarananya belum ada. Tentunya hal itu menguntungkan bagi masyarakat," ungkapnya.

Baca juga: Satgas TMMD di Bone Aktif Berkomunikasi dengan Warga

Kendati ujian untuk memiliki SIM ini terbilang sulit, namun peserta uji SIM dapat kembali mengulang bila gagal. Sesuai dengan Peraturan Kapolri (Perkap) No.9 Tahun 2012, seorang peserta uji SIM gagal, maka boleh mengulang pada 7 hari setelah itu. Bila kembali gagal, dapat mengulang kembali setelah 14 hari. Kalau tetap gagal, dapat mengulang setelah 21 hari.

"Kalau gagal lagi, ya udah tahun depan baru daftar lagi," tandasnya.

Sebagai Kanit Regident, ujar Bakri, dirinya senantiasa mengawasi setiap pelaksanaan pelayanan SIM ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti pelibatan calo, atau adanya masyarakat yang berpura-pura sebagai peserta uji SIM.

"Lain peserta, lain juga yang ikut tes, hal-hal seperti itu harus kita cegah," tegasnya.

Reporter : Abdullah    Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0