EKSPOSKALTIM.com, Sangatta - Harga beras di beberapa daerah di Indonesia mengalami kenaikan hingga melewati batas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga rata-rata beras jenis medium di Jakarta berkisar di Rp 14.100 per kilogram. Harga ini melampaui HET yang ditetapkan sebesar Rp 9.450 per kilogram.
Karena itu pemerintah memutuskan untuk melakukan impor beras sebanyak 500 ribu ton guna menstabilkan harga beras di pasaran.
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Kutai Timur, Kadir ,menyebutkan bahwa pilihan untuk impor hendaknya dikhususkan untuk menutup kekurangan pasokan saja, terutama untuk daerah yang sangat membutuhkan.
“Ketersediaan stok beras di Bulog juga patut dipertimbangkan dalam distribusi beras dalam memenuhi kebutuhan termasuk di Kaltim hingga Kutim,” ujarnya, Senin 19 Februari 2018.
Lebih lanjut ia mengatakan, pemerintah perlu lebih memperhatikan sebaran pasokan yang merata sesuai dengan jumlah populasi penduduk dan kebutuhan beras untuk masing-masing daerah.
Terhadap kemungkinan adanya permainan spekulan beras, Kadir berharap agar Satgas Pangan yang telah dibentuk dapat menyelidiki dan menemukan pihak-pihak yang dengan sengaja ingin mengacaukan harga beras di pasaran.
“Jelas perbuatan mempermainkan harga dengan cara menimbun beras atau menunda pasokan ke pasar akan merugikan masyarakat banyak. Satgas Pangan harus dapat mengantisipasi lebih dini agar kejadian seperti ini tidak terulang di masa yang akan datang,” tutur legislator dari Fraksi Golkar ini.
Kemudian, ia juga menyinggung potensi produksi beras daerah di Kutim untuk dapat dimaksimalkan. “Kita punya kawasan persawahan yang sebenarnya mampu menopang kebutuhan daerah, tapi harus bisa dimaksimalkan,” ujarnya. (adv)

