EKSPOSKALTIM, Bontang - Penghasilan nelayan ikan teri, tak seperti penghasilan nelayan ikan lainnya. Menjadi seorang nelayan ikan teri membutuhkan modal yang cukup lumayan hingga Rp 20 juta untuk membuat satu unit rumah apung (bagang) .
Salah satu nelayan ikan teri, Heri (56), mengeluhkan dengan hasil tangkapannya yang setiap malamnya tidak menentu. Bahkan sering hasil yang ia dapat hanya untuk membeli bahan bakar dan perlengkapan lainnya.
"Paling banyak saya dapat itu sekitar Rp 400 ribu, Rp 200 ribu dan terkadang juga dapatnya cuman pembeli biaya bahan bakar aja, biaya bahan bakar setiap kali saya berangkat itu sekitar Rp 100 ribu. Jadi kita tidak dapat apa-apa hanya pulang tangan kosong," kata heri saat ditemui dirumahnya, Jalan Pelabuhan, Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kecamatan Bontang Selatan, Rabu (8/6/2016).
Meskipun penghasilan tidak menentu, namun Heri senang menjalani profesi nelayan yang sudah 30 tahun ia geluti tersebut.
"Saya sudah lama menjadi nelayan ikan teri, saya senang aja jadi nelayan ikan teri meskipun penghasilan kadang tidak menentu. Ya semua nelayan begitu juga, kadang tidak menentu penghasilannya," ujarnya
Diceritakannya, ia berangkat mencari tangkapan ikan teri pada sore hari dan pulang menjelang subuh. Kemudian hasil tangkapan tersebut langsung ia jual kelangganan yang biasa menampung hasil tangkapannya.
"Kalau ikan teri itu, tidak dijual perkilo seperti ikan biasanya, tapi ikan teri dijual perkeranjang. Satu keranjang harganya Rp 70 ribu, itu pun kalau ikan terinya tidak banyak campuran ikan-ikan lainnya. Kalau banyak campurannya, harganya juga turun hingga Rp 40 ribu saja," imbuhnya.
Heri mengakui, kendala yang dia alami selama ini belum ada, hanya saja saat musim terang bulan tangkapannya juga semakin menurun.
"Kalau kendala sih tidak ada, tapi kalau musim terang bulan ikan sedikit kita dapat karena ikan teri ini musiman juga. Kecuali bukan musim terang bulan ya sering-sering aja dapat ikan teri," tutupnya.

