PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Minim Inovasi dan Tidak Terawat, Pengunjung Keluhkan Mahalnya Ongkos Penyeberangan

Home Berita Minim Inovasi Dan Tidak T ...

Minim Inovasi dan Tidak Terawat, Pengunjung Keluhkan Mahalnya Ongkos Penyeberangan
PERLU PERHATIAN: Fasilitas umum yang tak terawat sedikit banyak mempengaruhi daya tarik suatu objek wisata, tak terkecuali di pulau Beras Basah. (Dok.EksposKaltim)

EKSPOSKALTIM, BontangDibanding banyak objek wisata unggulan di Kaltim, pulau Beras Basah kini kurang bisa bersaing, bukan karena pesona alamnya. Berkaca dari kondisinya sekarang, beberapa infrastruktur dan fasilitas wisata tak terawat lantaran lama terbengkalai.  

Sudah sejak 2016 lalu, pemberitaan mengenai penutupan destinasi wisata pantai di bagian selatan Kota Taman ini mencuat. Kesan kurang menyenangkan keluar dari mulut Tia (48) salah seorang pengunjung dari Samarinda. 

Ia harus merogoh kocek sekira Rp 700 ribu untuk pulang-pergi menyeberang ke pulau Beras Basah. “Kondisinya biasa biasa saja. Ya sampai sana heran kok gini aja, mikir dua kali lah kalau mau ke sini lagi,” jelas ibu rumah tangga ini.   

Bertolak sejak pagi hari, Tia membawa 12 anggota keluarga dari Samarinda. Tiba pukul satu siang, rombongannya langsung berangkat via dermaga Tanjung Laut di kecamatan Bontang Selatan.

Sekira empat jam waktu yang dapat ia habiskan berwisata di Beras Basah. Keberadaan objek wisata ini  pertama kali ia ketahui dari media sosial. Karena tahu di Beras Basah tak tersedia warung makan, mereka membawa serta bekal dari rumah.  

Rivaldi, putra Tia menambahkan jika Beras Basah minim inovasi.“Game-nya gak ada, kurang menarik mandi air bersih abis berenang juga bayar, semua serba bayar,” kata dia. Namun Vina, putri Tia mengakui jika pesona alam di Beras Basah masih cukup menjual. “Air lautnya masih bening seru sih suasana pantainya.”  

Sementara Rendra, pengunjung asal Samarinda lain mengeluhkan tingginya ongkos penyeberangan. “Ya maunya tadi Rp 400 ribu aja. Soalnya kami cuma bertujuh, paling-paling jam 6 sore sudah pulang, gak nginap,” jelas dia ditemui di pos terpadu Tanjung Laut Indah.   

"Jorok dan memprihatinkan. Sampaikan saja ke wali kota kalau pulau Beras Basah ini minim perhatian,” jelas Rudi Widodo pengunjung lain asal Balikpapan. Rudi juga mengatakan jika sejumlah infrastrukur penunjang perlu perbaikan.  

Sebagai informasi Asosiasi Penyedia Jasa Transportasi Wisata Laut (APJTWL) Bontang membuka waktu pelayanan untuk menyeberangkan penumpang ke Beras Basah dari jam 7 pagi sampai 5 sore.Soal tarif pulang-pergi untuk kapal bermuatan 10- 20 orang dipatok Rp 600 ribu.

Untuk kapal bermuatan kurang dari 10 orang sebesar Rp 500 ribu. Kapal bermuatan 21-35 orang sebesar Rp 750 ribu. Dan kapal bermuatan dengan 35- 45 orang Rp 900 ribu.  

"Jika menginap tambah biaya lagi untuk ongkos bahan bakar Rp 100 ribu," jelas Wandi Bendahara APJTWL Bontang.    

Kehadiran Beras Basah sejauh ini membuat masyarakat Bontang tak perlu lagi jauh-jauh ke Berau atau ke Balikpapan demi melihat pantai dengan hamparan pasir putih. Beras Basah menjadi salah satu alternatif  wisata di Bontang yang saat ini masih minim.  

Selain pantai, objek wisata ini sudah dikenal luas menjual pemandangan alam dan laut lepas yang tak kalah bersaing memberikan kesan nyaman bagi wisatawan. Pun suguhan manakala matahari terbit dan tenggelam yang terlihat jelas jika kita berdiri tepat pinggir pulau ini.   

Sampai sekarang fasilitas seperti banana boat serta kegiatan berenang atau menyelam permukaan (snorkeling) juga masih tersedia.  Pantauan Ekspos Kaltim, di Beras Basah sendiri, faktor alam menjadi penentu.  

Di beberapa titik pantai saat ini sudah mulai mengalami kerusakan akibat gelombang air laut. Contohnya jembatan yang terbuat dari kayu ulin. Penopang besi jembatan mulai mengalami kerusakan dan kropos karena tergerus ombak air laut.   

Pun dengan tembok pantai terbuat dari beton yang berfungsi menahan kerasnya gelombang laut juga mulai keropos. Pulau yang dulunya begitu luas kini hanya tersisa sekira satu hektar dikarenakan abrasi yang terus mengikis garis pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai


Editor : Benny Oktaryanto

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :