PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Sudah Mau Bubar, Kader GMNI Justru Dapat Perlakuan Kasar Ajudan Gubernur

Home Berita Sudah Mau Bubar, Kader Gm ...

Aksi karhutla GMNI Samarinda yang sudah selesai justru berujung insiden dugaan kekerasan. Ajudan Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud disebut melakukan kontak fisik terhadap mahasiswa di lingkungan masjid Kantor Gubernur, saat mahasiswa mempertanyakan gubernur yang tak menemui massa.


Sudah Mau Bubar, Kader GMNI Justru Dapat Perlakuan Kasar Ajudan Gubernur
Tangkapan layar ajudan Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud saat insiden dengan mahasiswa GMNI. /Istimewa

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Aksi demonstrasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda soal penanganan karhutla di Kaltim, Senin (19/10/2026) sore, berakhir insiden.

Massa aksi diduga mendapat perlakuan fisik dari ajudan Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud di lingkungan Masjid Nurul Mu'minin, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim.

Insiden terjadi setelah aksi selesai. Kader GMNI Samarinda Rossa Tri Rahmawati menuturkan, massa sudah mengakhiri aksi sekitar pukul 18.00 Wita dan berkumpul di titik kumpul menunggu azan Magrib sebelum pulang.

"Teman-teman GMNI sebenarnya tidak ada ngapa-ngapain. Kami cuma duduk karena memang sudah mau pulang," ujar Rossa.

Saat itu Rudy Mas'ud datang untuk salat Magrib bersama dua ajudannya.

Kedatangan gubernur memicu reaksi mahasiswa yang kecewa karena sebelumnya tidak ditemui saat aksi.

Rossa mengaku hanya merekam kedatangan gubernur dan melontarkan pertanyaan. Tidak ada penghadangan.

"Saya cuma sekadar nyeletuk bertanya, kenapa tadi enggak menemui massa aksi? Malah dia yang menghampiri kami untuk menjawab," tuturnya.

Menurut Rossa, persoalan muncul setelah gubernur melewatinya. Telepon genggam yang dipakai merekam mendapat perlakuan dari salah seorang ajudan.

"Padahal saya tidak menyentuh apa pun, bahkan tidak menodong-nodongkan HP ke Rudy Mas'ud," katanya.

Kader GMNI lainnya, Ridwan, menyebut situasi memanas setelah mahasiswa bereaksi atas perlakuan terhadap Rossa. Seorang ajudan kemudian menghampiri dari jarak cukup jauh dan langsung melakukan kontak fisik.

"Dia menghampiri saya, tiba-tiba langsung mem-body," ujar Ridwan.

Sikap ajudan gubernur ini patut disesalkan.

Di tengah desakan publik agar karhutla ditetapkan sebagai bencana nasional dan tuntutan transparansi penanganan, respons kekuasaan justru berujung dugaan kontak fisik terhadap mahasiswa yang sudah mengakhiri aksi secara damai.

Tindakan represif di area rumah ibadah, saat massa hendak membubarkan diri, menunjukkan buruknya sensitivitas aparat pendamping kepala daerah terhadap kebebasan menyampaikan pendapat.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud terkait insiden tersebut.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :