Ancaman Super El Niño membuat perlindungan kesehatan saat cuaca panas perlu diperhatikan. Pakar ULM mengingatkan risiko dehidrasi hingga sengatan panas, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan pekerja luar ruangan.
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Cuaca panas berkepanjangan bukan sekadar membuat tubuh cepat gerah. Jika tidak diantisipasi, paparan panas ekstrem dapat memicu dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga sengatan panas yang membahayakan kesehatan.
Pakar Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kalimantan Selatan, Profesor Husaini, mengingatkan ancaman Super El Niño pada 2026 perlu diantisipasi sejak dini, terutama untuk melindungi kelompok rentan.
"Fenomena iklim tersebut tidak hanya memicu suhu ekstrem dan penurunan curah hujan, tetapi juga berisiko memperburuk penyakit, meningkatkan kerawanan pangan, serta memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang rentan mengalami kekeringan," katanya di Banjarmasin, Jumat (16/10).
Menurut Husaini, lansia, ibu hamil, anak-anak, penderita penyakit jantung, serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan memerlukan perlindungan khusus karena paparan panas berkepanjangan dapat memperburuk kondisi kesehatan.
Lantas, apa yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan ketika cuaca panas berlangsung lebih lama?
1. Penuhi kebutuhan cairan
Jangan menunggu sampai merasa sangat haus untuk minum. Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi sepanjang hari, terutama setelah berkeringat atau beraktivitas di luar ruangan.
Kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda, khususnya bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu atau mendapat pembatasan asupan cairan dari dokter.
2. Kurangi aktivitas di bawah terik matahari
Jika memungkinkan, jadwalkan aktivitas fisik di luar ruangan pada pagi atau sore hari ketika kondisi lebih sejuk. Saat suhu terasa sangat panas, kurangi aktivitas berat dan beristirahatlah di tempat teduh atau ruangan yang sejuk.
Pekerja lapangan perlu memperoleh kesempatan istirahat dan akses air minum yang memadai.
3. Kenali tanda tubuh mengalami gangguan akibat panas
Rasa pusing, sakit kepala, mual, lemas, keringat berlebihan, dan kram otot dapat menjadi tanda kelelahan akibat panas.
Segera hentikan aktivitas, pindah ke tempat sejuk, dan lakukan pendinginan tubuh. Jika muncul kebingungan, kejang, pingsan, atau kondisi yang mengarah pada sengatan panas, segera cari pertolongan medis darurat.
4. Berikan perhatian lebih kepada anak dan lansia
Anak-anak dan lansia perlu mendapat perhatian khusus ketika cuaca panas. Pastikan mereka cukup minum, berada di lingkungan yang sejuk, dan tidak terlalu lama terpapar matahari.
Jangan pernah meninggalkan anak atau orang yang membutuhkan bantuan di dalam kendaraan yang terparkir, meskipun hanya sebentar.
5. Jaga kondisi tubuh jika memiliki penyakit
Orang dengan penyakit jantung dan kondisi kesehatan tertentu perlu lebih berhati-hati saat suhu meningkat. Panas dapat menambah beban tubuh dan memperburuk kondisi yang sudah ada.
Jika muncul keluhan yang tidak biasa, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Jangan mengubah penggunaan obat tanpa arahan dokter.
6. Perhatikan kebersihan lingkungan dan risiko DBD
Husaini mengingatkan perubahan suhu, kelembapan, dan pola curah hujan dapat memengaruhi risiko penyakit, termasuk demam berdarah dengue (DBD).
Karena itu, pemberantasan sarang nyamuk dan pemantauan lingkungan tetap perlu dilakukan. Warga juga perlu memastikan tempat penampungan air dikelola dengan baik agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
7. Pastikan air bersih dan makanan tetap aman
Kekeringan berkepanjangan berpotensi mengurangi ketersediaan air bersih dan menekan produksi pertanian. Karena itu, air untuk kebutuhan sehari-hari perlu dijaga kebersihannya, sementara makanan harus disimpan dan diolah secara higienis.
Husaini juga mengingatkan penurunan hasil panen berpotensi meningkatkan harga bahan pokok dan memperbesar risiko gangguan gizi, terutama pada anak-anak dan ibu hamil.
Antisipasi sejak dini
Husaini menegaskan, ancaman Super El Niño tidak hanya berkaitan dengan suhu tinggi, tetapi juga ketersediaan air, pangan, dan kesiapan pelayanan kesehatan.
“Kita tidak boleh menunggu sampai orang mulai jatuh sakit dan angka kematian meningkat baru menyadari bahayanya. Ancaman ini perlu diidentifikasi sejak dini dengan menganalisis data iklim dan kondisi kesehatan masyarakat,” ujarnya yang juga menjabat Koordinator Kampus ULM Banjarbaru.
Ia mendorong pemerintah daerah dan masyarakat memperkuat pemantauan iklim dan kesehatan, menyiapkan distribusi air bersih, menjaga pasokan pangan, melindungi kelompok rentan, serta meningkatkan pengawasan kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan.
Bagi masyarakat, langkah pentingnya adalah mengenali risiko panas, menjaga kecukupan cairan, mengurangi paparan matahari, dan segera mencari pertolongan apabila muncul tanda gangguan kesehatan serius. (ant)


