Bagi pencinta durian yang sedang merencanakan wisata kuliner akhir pekan, Kaltim tak hanya menawarkan rasa legit sang raja buah.
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Musim durian selalu menjadi momen yang ditunggu para pemburu kuliner di Kalimantan Timur. Dari kebun-kebun rakyat hingga sentra produksi durian lokal, buah berduri ini tak hanya menjadi primadona meja makan, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat sekitar hutan.
Di balik geliat wisata durian tersebut, Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Timur tengah mendorong pengembangan budidaya durian dengan sistem agroforestri. Pola ini menggabungkan tanaman durian dengan vegetasi hutan dan tanaman lain sehingga memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Pelaksana Tugas Kepala Dishut Kaltim Rusmadi mengatakan durian merupakan salah satu komoditas unggulan daerah yang memiliki prospek pasar besar sejak pengembangan sentra durian dimulai pada awal 1990-an.
"Durian memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu komoditas yang potensial untuk terus dikembangkan," ujarnya.
Menurut Rusmadi, metode agroforestri memberikan keuntungan ganda. Selain menghasilkan buah bernilai jual tinggi, sistem tersebut juga membantu mengurangi erosi, menjaga kesuburan tanah, serta mempertahankan tutupan vegetasi di kawasan sekitar hutan.
Dishut Kaltim melalui UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau kini aktif mendampingi para pekebun durian agar mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Pendampingan mencakup teknik budidaya, pengendalian hama dan penyakit, hingga akses informasi pasar. Dengan demikian, para petani tidak hanya menghasilkan buah yang lebih baik, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Rusmadi menjelaskan pola agroforestri juga mampu menekan biaya produksi karena petani tidak terlalu bergantung pada pupuk dari luar. Keberadaan berbagai jenis tanaman dalam satu lahan membantu menjaga keseimbangan ekosistem secara alami.
Bagi wisatawan yang gemar berburu durian lokal, pendekatan ini menjadi kabar baik. Selain menikmati cita rasa khas durian Kaltim, mereka juga ikut mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
"Tujuan akhirnya adalah terciptanya harmoni antara kelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Rusmadi.
Dengan semakin berkembangnya sentra-sentra durian berbasis agroforestri, Kaltim berpeluang menghadirkan pengalaman wisata kuliner yang tidak sekadar memanjakan lidah, tetapi juga membawa pesan penting tentang pelestarian lingkungan.
Bagi para pencinta durian, akhir pekan bisa menjadi waktu yang tepat untuk menikmati manisnya buah lokal sekaligus melihat bagaimana hutan dan ekonomi warga tumbuh berdampingan. (ant)



