Bontang, EKSPOSKALTIM – Hujan malam itu tak menyurutkan langkah Sumarno (47) untuk tetap berjualan. Di bawah payung kecil, di atas motor hitamnya, pria paruh baya itu menggelar dagangan pentol, cireng, tahu isi, dan mpek-mpek di Lapangan Hop, Kelurahan Satimpo, Bontang Selatan.
Sudah 23 tahun Sumarno menjalani hidup sebagai pedagang kaki lima. Sejak 2002, ia mengandalkan jualan gorengan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. "Ini dari awal jualan, "Paklek" nggak pernah naikin harga atau nurunin jumlah gorengannya. Dari dulu harga barang murah, walaupun sekarang naik tetap sama, nggak berubah," katanya saat berbincang ringan dengan EKSPOSKALTIM. Paklek adalah sapaan khas dalam budaya Jawa, yang umumnya berarti paman.
Bagi Sumarno, kepuasan pembeli lebih penting dari sekadar mengejar untung. “Paklek itu kepikiran pembeli, jadi harga yang dijual tetap sama. Begitu pun dengan rasa pentol, cireng, dan tahu. Tetap bersyukur, yang penting pembeli senang,” ujarnya.
Saban hari, Sumarno berkeliling dari satu titik ke titik lain. Mulai pukul 10.00 WITA di Sekolah YKPP, lalu ke SMP 2 dan SMP 8. Sore hingga malam, ia mangkal di GOR PKT dan Lapangan Hop, dari pukul 16.00 hingga 01.00 WITA.
Sofyan, salah satu pembeli setianya, mengaku jajanan Paklek selalu bikin kangen. “Rasanya enak, dari dulu tidak pernah berubah, terlebih lagi murah,” katanya sambil menyantap pentol.
Namun Sumarno tak menampik bahwa berdagang juga penuh tantangan. Salah satunya akses membeli gas melon yang dibatasi per KTP. Belum lagi jika hujan turun, pembeli sepi dan pendapatan menurun.
Dalam sehari, penghasilannya bisa mencapai Rp600–700 ribu. Tapi untuk kebutuhan bahan baku, ia biasa belanja langsung dalam jumlah besar hingga Rp5 juta. “Belinya sekalian banyak, diusahakan tidak setiap hari ke pasar, karena jarak rumah Paklek sama pasar jauh,” jelasnya.
Kini, penjualan mulai lesu. Tapi semangat Sumarno belum padam. Ia masih terus berjuang demi dua anaknya. Si sulung sedang kuliah semester enam di Samarinda, sementara si bungsu baru masuk TK.
Di tengah perjuangan itu, ada satu mimpi yang masih tersimpan rapat, yaitu naik haji.
“Paklek bercita-cita naik haji, tapi uangnya belum cukup. Jadi sementara uang yang Paklek hasilkan ini untuk biaya kuliah anak pertama di Samarinda, sama anak kedua Paklek baru masuk TK besar di sini,” tutupnya dengan penuh harap.

