Bontang, EKSPOSKALTIM - Di tengah deru Kota Bontang, aroma tahu tek dan hulor (tahu telur) khas Jawa Timur masih setia menyapa warga. Di balik aroma itu, ada kisah perjuangan M Sa’i (64), perantau asal Jawa yang telah 26 tahun mengandalkan wajan dan bumbu petis demi menyekolahkan anaknya hingga ke bangku kuliah.
Kisah M Sa’i dimulai pada 1999. Dengan gerobak sederhana, ia menyusuri jalanan Berbas Tengah hingga Berbas Pantai. Kala itu, ia menjajakan makanan khas Surabaya yang mungkin asing bagi sebagian warga Kalimantan Timur. Tapi perlahan, rasanya yang khas, perpaduan tahu goreng, lontong, telur, tauge, kentang, dan siraman bumbu kacang petis, menemukan tempat di lidah pelanggan.
Belakangan, karena faktor usia dan fisik yang tak lagi kuat, M Sa’i berhenti berkeliling. Ia menetap berjualan di halaman rumahnya di Jalan Beringin, Kelurahan Satimpo, Bontang Selatan. Justru di situlah pelanggannya makin setia.
“Dulu masih keliling pakai gerobak, sekarang sudah tetap di rumah sejak tujuh tahunan,” ujarnya saat ditemui EKSPOSKALTIM, Senin (3/6).
Meski usianya tak lagi muda, semangatnya tetap menyala. Dari hasil berjualan, ia mampu meraup penghasilan sekitar Rp1 juta per hari di hari biasa, dan hingga Rp1,3 juta saat akhir pekan. Semua itu ia kumpulkan demi satu tujuan, yakni pendidikan anak.
“Alhamdulillah, bersyukur sekali dengan rezeki ini,” ungkapnya. Anaknya kini tengah kuliah, dan itu jadi kebanggaan terbesar M Sa’i setelah puluhan tahun hidup dengan penuh perjuangan.

