EKSPOSKALTIM, Jakarta – Dua hari lagi, genap 150 hari sejak tragedi kemanusiaan di Muara Kate, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Namun luka itu belum benar-benar pulih. Russell (60), warga yang dikenal gigih menolak hauling batu bara di atas jalan negara, tewas dalam sebuah serangan dini hari pada 15 November 2024. Satu warga lain, Anson (55), masih berjuang pulih dari luka-luka serius yang ia derita.
Pelaku penyerangan masih misterius. Polisi belum mengumumkan satu nama pun sebagai tersangka. Padahal, tragedi ini sudah berlangsung hampir lima bulan.
Media ini sudah berulang kali mencoba menghubungi dua komisioner Komnas HAM sejak 17 hari setelah insiden terjadi. Namun, jawaban baru datang menjelang peringatan 150 hari.
Komisioner Komnas HAM, Uli Parulian Sihombing, akhirnya buka suara. Ia menyebut pihaknya telah meminta keterangan dari Polda Kalimantan Timur dan menginformasikan langkah itu kepada LBH Samarinda.
“Komnas HAM merekomendasikan penegakan hukum yang adil dan transparan,” ujar Uli saat dikonfirmasi, Minggu petang (13/4).
Namun, saat dikonfirmasi ulang mengenai surat rekomendasi, LBH Samarinda mengaku belum menerima dokumen apa pun. “Kami belum menerima,” kata Irvan, pengacara publik dari LBH Samarinda.
Menurut Irvan, persoalan utama yang belum disentuh negara justru ada pada praktik hauling batu bara di atas jalan negara—sesuatu yang jelas-jelas melanggar aturan. “Itu muara konfliknya,” ujarnya.
Irvan menegaskan bahwa praktik hauling tersebut melabrak Perda Kaltim No. 10 Tahun 2012 dan UU No. 3 Tahun 2020. Oleh karena itu, LBH Samarinda mendesak agar Komnas HAM tak hanya bicara soal penegakan hukum, tetapi juga mendorong penghentian total kegiatan hauling ilegal yang telah merenggut nyawa dan merusak kehidupan warga.
“Komnas HAM harus memberikan rekomendasi tegas kepada pemerintah. Hauling ini bukan cuma soal pelanggaran hukum, tapi juga sudah berdimensi pelanggaran HAM,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Uli menyatakan bahwa pihaknya mendorong penegakan hukum yang berbasis bukti ilmiah.
“Komnas HAM merekomendasikan penegakan hukum yang adil dan transparan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific crime investigation),” pungkasnya.
Suara dari Muara Kate
Muara Kate adalah sebuah dusun di Muara Komam, sebuah kecamatan terluar Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Jarak tempuh ke Grogot pusat daripada Paser bisa berkisar 141 kilometer. Ke ibu kota Nusantara, Penajam lebih jauh lagi; berkisar 166 kilometer.
Pun di sisi selatan dengan provinsi tetangga, Kalimantan Selatan. Jarak terdekat dengan Kota Tanjung, yang menjadi pusat Kabupaten Tabalong berkisar 219 kilometer. Mayoritas warganya bersuku Dayak.
Di lapangan, warga Muara Kate belum berhenti berjaga. Mereka masih berdiri menghadang setiap truk batu bara yang coba melintas dari Kalimantan Selatan menuju Kalimantan Timur. Tekanan terus mereka rasakan, tapi semangat tak surut.
Tragedi yang menimpa Russell dan Anson telah memantik solidaritas luas. Koalisi masyarakat sipil, mahasiswa, dan aktivis lingkungan di Kaltim dan Kalsel bersiap menggelar unjuk rasa besar-besaran dalam sepekan ke depan. Tuntutannya jelas: Tangkap pembunuh Russell. Hentikan hauling di jalan negara. Dan, negara harus hadir.
Kerusakan jalan turut dirasakan hingga Kalimantan Selatan. Semenjak tragedi Muara Kate pecah, truk-truk diduga dari PT MCM beralih haluan menuju arah Banjarmasin.
Imbasnya, sisi kiri sepanjang jalan dari hulu sungai menuju ibu kota Kalsel rusak-rusak. Truk-truk batubara juga menghadirkan ancaman baru bagi pengendara lain di jalan raya.
"Jika tuntutan tak dipenuhi, kami akan suarakan hingga DPR RI," kata pentolan warga Hulu Sungai, Emma Rivilia dikontak media ini, Minggu malam (13/4).

