PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

[WAWANCARA] Mereka Senang Dayak Terpecah setelah Tragedi Muara Kate

Home Berita [wawancara] Mereka Senang ...

[WAWANCARA] Mereka Senang Dayak Terpecah setelah Tragedi Muara Kate
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kaltim, Viktor Yuan. Foto: Media Kaltim

EKSPOSKALTIM, JAKARTA - PT Mantimin Coal Mining (MCM) diam-diam memohon izin bupati Paser untuk memakai lagi jalan negara sebagai lintasan batu bara. PT MCM nekat sebab angkutan mereka berhenti beroperasi setelah tragedi pendeta Veronika. 

"Atas penjelasan angka 1 sampai 7, PT MCM memohon agar perusahaan dapat beraktifitas kembali dengan tetap mengikuti arahan dan petunjuk serta rekomendasi dari pemerintah Kabupaten Paser," begitu bunyi surat dari PT MCM yang bocor ke publik, Rabu (25/12).

Surat demikian adalah tanggapan PT MCM atas penghentian sementara penggunaan jalan negara untuk angkutan batu bara. Surat ditandatangani oleh Andreas Rolando Purba, selaku direksi.

PT MCM adalah raksasa tambang batu bara Kalimantan Selatan. Luas konsesinya mencapai 5 ribu hektare mencakup dua kabupaten sekaligus; Tabalong dan Balangan. Mereka memiliki kepentingan di Kaltim untuk mengangkut hasil tambang ke pelabuhan di Desa Rangan, Kabupaten Paser.

Oktober 2024, pemerintah kabupaten menghentikan izin lintasan MCM setelah meluasnya penolakan warga dan tewasnya pendeta Veronika. Sampai berita ini tayang, Ekspos Kaltim sudah menghubungi Andreas. Namun tak ada respons.

Pendeta Veronika tewas setelah terlindas truk batu bara PT MCM yang terguling. Sebenarnya tak hanya Veronika. Sebelum itu ada juga seorang ustaz muda yang baru saja menikah. Ustaz ini tewas didugat kuat menjadi korban tabrak lari truk pengangkut emas hitam.

Ada tujuh poin isi surat tanggapan dari PT MCM. Umumnya mengenai penjelasan bahwa telah ada kesepakatan antara PT MCM dengan keluarga Veronika. Mengenai denda adat dan ganti rugi.

Selanjutnya, kesepakatan bersama antara perwakilan gereja Protestan di Indonesia Barat dengan PT MCM. Termasuk dengan perwakilan masyarakat dan tokoh adat Muara Kate seiring pembunuhan di posko warga penolak jalan hauling. PT MCM juga mengaku telah membayar denda empat piring (masalah tuntutan).

Selanjutnya, PT MCM juga menyertakan pernyataan sikap Dewan Adat Dayak Kaltim yang ditandatangani Viktor Yuan, hingga Lembaga Dayak Deah. Tak tanggung-tanggung, PT MCM juga menyertakan pernyataan sikap Sultan Paser Aji Muhammad Jarnawi. Semua dilakukan MCM agar dapat kembali menggunakan jalan negara sebagai hauling.

Lalu benarkah pernyataan sikap itu? Ketua Dewan Dayak Kaltim, Viktor Yuan membantah keras. Yuan bilang semua itu hanyalah klaim semata dari PT MCM. Ia bilang pernyataan sikap yang dimaksud DAD adalah selesainya urusan denda adat antara PT MCM dengan pihak pendeta Veronika. Berikut wawancara lengkapnya:

Benarkah sikap DAD Kaltim begitu?

Surat yang DAD keluarkan bukan untuk jalan hauling tapi surat pernyataan bahwa adat istiadat, biaya duka, santunan kepada keluarga terkait kematian ibu pendeta sudah selesai urusannya dengan pihak keluarga korban di kalbar. Itu aja.

Intinya, benar DAD tidak ikut pasang badan supaya PT MCM bisa kembali menggunakan jalan negara sebagai lintasan batu bara?

Saya sudah jelaskan kepada keluarga di Muara Kate. Di sana rupanya sudah ada framing bahwa DAD beking Mantimin. Dan saya sampaikan tidak ada izin, tidak ada beking, dan DAD sepakat dengan kapolda Kaltim agar hauling tidak menggunakan jalan umum.

Bagaimana dengan denda adat terkait pendeta Veronika?

Kalau denda adat terkait bu pendeta itu dilakukan di Kalbar bersama pihak keluarga korban. Makanya surat DAD Kaltim hanya sebagai pegangan MCM bahwa urusan dengan keluarga dan adat kita hargai sebagai upaya damai kedua belah pihak yang bersangkutan.

Denda adat ini yang membayar MCM berarti ya?

Iya. Berdasarkan tuntutan keluarga dan adat di Kalbar..

Bagaimana penjelasan Anda soal isu DAD beking PT Mantimin?

Saya sampaikan ke warga di Muara Kate, jangan sampai mudah terprovokasi oleh sesuatu yang belum jelas sumbernya.

Karena memang tujuan dari pihak luar adalah pecah belah dan akhirnya tercipta kepentingan-kepentingan yang mudah dimasuki pihak luar. Mereka senang kalau kita terpecah belah akhirnya tercipta bahwa kesempatan untuk segala kepentingan mereka.

Bahkan bisa saja antar kelompok di sana selama ini diadu, atau bahkan antar-keluarga. Nabok pakai tangan orang lain. Itu yang kadang tidak kita sadari.

Saat ini belum ada pendampingan dari LPSK atau Komnas HAM terkait Tragedi Muara Kate?

Saya bilang sama mereka DAD siap melakukan pendampingan tapi prosedural dan sesuai tahapan. Bisa saja ini dibawa ke DPRD Kaltim, DPR RI komisi 3. Asal jangan berpikir negatif dulu. Jangan pakai emosi. Kalau saja emosi lawan emosi malah internal sendiri yang ribut.

Kenapa bisa sampai berembus isu beking MCM?

Ini saya marah sekali karena saya mendengar langsung dari pihak keluarga korban saat kami di sana. Tapi setelah saya jelaskan, akhirnya mereka paham. Kami sama-sama minta maaf.

Apa sebenarnya maksud tujuan Anda ke Muara Kate, 21 Desember tadi?

Saya menyampaikan duka dan ke sana untuk menyerahkan bantuan dari pengurus DAD, PDKT dan LPADKT. Ini semua sudah saya niatkan sejak dari Tanah Suci, Mekkah.

Apa inti dari pesan Anda?

Intinya, ada pihak yang sengaja adu domba sesama Dayak. Yang tidak ingin tragedi kemanusiaan di Muara Kate terungkap terang benderang.

***

Lebih sebulan sudah Tragedi Muara Kate. Belum ada titik terang dalang pembunuhan tetua adat Dayak Deah, Russell, 60 tahun.

Pembunuhan Russell terjadi pada 15 November atau sebulan setelah gerakan warga menolak aktivitas truk batu bara di jalan negara.

Warga yang kuatir kematian pendeta Veronika terulang mendirikan posko di wilayah terluar Kaltim yang perbatasan langsung dengan Kalsel.

Veronika tewas terlindas sebuah truk batu bara yang terguling, akhir Oktober 2024. Dia bukan merupakan satu-satunya korban. Seorang ustaz muda yang baru saja menikah sebelumnya juga tewas. Diduga menjadi korban tabrak lari sebuah truk batu bara.

Aksi menghalau truk batu bara sebenarnya juga dilakukan warga di Batu Kajang. Pada akhir 2023 aksi blokade dilakukan. Tak mempan. Truk-truk tambang bahkan nekat menerobos barikade warga.

Truk-truk batu bara berpelat DA (Kalimantan Selatan) ini tetap melintas untuk memasok hasil tambang ke pelabuhan di Desa Rangan. Sebagian besar truk-truk ini disinyalir berasal dari PT Mantimin Coal Mining (MCM).

Nahas, penyerangan justru menimpa posko warga. Russel, tetua adat Dayak Deah tewas akibat serangan sekelompok orang yang menggunakan masker dan menumpangi mobil. Tak hanya pria renta tersebut, serangan pagi buta itu juga membuat kritis Anson, 55 tahun.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :