EKSPOSKALTIM, Balikpapan- Penajam Paser Utara (PPU) akan melakukan komunikasi intensif dengan Pertamina terkait pengelolaan blok migas eks PT Chevron Indonesia Company (Cico).
Langkah tersebut dilakukan agar PPU sebagai daerah penghasil migas mendapatkan porsi bagi hasil yang lebih besar. Selama ini, PPU mendapatkan Participating Interest (PI) 10 persen di bawah pengelolaan provinsi.
“10 persen itu tetap kita ambil. Setelah itu kita bicara business to business (B to B) dengan Pertamina,” kata Bupati PPU Yusran Aspar di sela Forum Group Discussion di Blue Sky Hotel, Minggu (6/8) membahas masa depan Blok EastKal sepeninggal Cico Oktober 2018 mendatang.
Sebelumnya, Penajam ngotot memperjuangkan haknya mendapatkan PI sebesar 51 persen. Upaya ini meniru Perusda Bumi Siak Pusako (BSP) di Pekanbaru, Riau yang berhasil mengelola migas secara mandiri.
“Langkah ini bukan keinginan saya pribadi tapi keinginan semua. Yang 10 persen itu kita syukuri dulu. Gambaran dari para ahli tadi membuka pandangan baru, makanya yang 10 persen itu kita ambil,” jelasnya.
Keinginan daerah seperti Penajam mengelola migasnya sendiri, kata Yusran, jangan dibenturkan dengan kesiapaan teknologi, sumber daya manusia ataupun modal yang besar. Menurutnya, kemampuan anak bangsa sangat mumpuni mengelola sumber daya alamnya sendiri.
“Kalau perlu, kita balik. Kita yang bayar tenaga ahli dari luar kalau memang dibutuhkan. Tapi Indonesia punya banyak tenaga ahli. Jangan kita yang dikuasai asing,” sebutnya.
Perusda Benuo Taka yang digadang akan mengelola sumur-sumur tua milik Cico disebut sudah memiliki pengalaman dalam pengelolaan lapangan migas.
Selain itu, di bawah kelola perusahaan lokal, kata dia, akan memberikan efek domino bagi perekonomian masyarakat. Misalnya, memenuhi kebutuhan tenaga lokal, bahan makanan, catering yang bisa dilibatkan melalui koperasi miliki perusda.
“Akan ada banyak transaksi yang dilakukan di Penajam. Ini akan berdampak pada masyarakat langsung,” katanya.

