Samarinda, EKSPOSKALTIM – Pengamat Universitas Mulawarman, Aji Sofyan Effendi, menilai model transmigrasi kepulauan bisa jadi jawaban di tengah penolakan sejumlah daerah terhadap program transmigrasi. Indonesia, katanya, masih punya banyak pulau yang belum berpenghuni.
"Data 2024 mencatat ada 17.380 pulau di Indonesia. Sekitar 13 ribu di antaranya terpencil, terluar, terbelakang, dan sebagian besar kosong. Daerah padat penduduk bisa memindahkan warga ke pulau-pulau itu," ujar Aji di Samarinda, Senin.
Menurutnya, pola ini bisa mengatasi ketimpangan hak atas tanah dan fasilitas yang kerap menjadi alasan penolakan. Pulau-pulau kosong yang selama ini hanya titik di peta, sesungguhnya menyimpan "harta karun": potensi perikanan, pariwisata kelas dunia, dan ruang hidup baru untuk masa depan.
"Ini bukan memindahkan masalah, tapi menyebar potensi. Kita bisa mengurai kepadatan Jawa yang sudah overload sekaligus mengoptimalkan aset negara yang terbengkalai," jelas Ketua ISEI Samarinda/Korwil ISEI Kaltim itu.
Aji ingin mengubah cara pandang transmigrasi—bukan sekadar memindahkan warga miskin demi hidup layak, melainkan membangun peradaban baru. Ia mencontohkan, pulau-pulau terluar yang kosong justru menjadi celah keamanan.
"Kasus Sipadan dan Ligitan jadi pelajaran pahit. Menempatkan penduduk di pulau-pulau berarti memperkuat kedaulatan negara. Tidak ada lagi wilayah yang mudah dicaplok karena kosong," tegasnya.
Soal listrik, ia menawarkan solusi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan panel di tiap rumah. "Listrik bukan lagi kemewahan, tapi standar hidup. Pulau yang tadinya gelap gulita bisa terang benderang dengan energi mandiri, ramah lingkungan, dan berkelanjutan," katanya.
Ia menambahkan, potensi perikanan di sekitar pulau bisa menjadi tulang punggung ekonomi. Transmigran tak hanya bertani, tapi juga menjadi nelayan modern, pengolah hasil laut, pengembang wisata bahari, bahkan peneliti kelautan.

