Lima kabupaten di Kalimantan Timur masuk zona rawan kebakaran hutan dan lahan, mendorong BPBD meningkatkan pengawasan titik panas selama 24 jam serta mempercepat penetapan status siaga darurat.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai diantisipasi serius di Kalimantan Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan kesiapsiagaan dengan pemantauan titik panas secara intensif sepanjang hari.
Pelaksana Harian Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim, Sugeng Priyanto, mengatakan pemantauan dilakukan selama 24 jam untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
“Strategi pertama, pemantauan 24 jam titik panas. Kemudian yang kedua adalah siaran radio siaga bencana untuk memberikan pembaruan data serta imbauan kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain pengawasan, BPBD juga tengah mempercepat penetapan status siaga darurat. Langkah ini dinilai penting untuk memobilisasi sumber daya, termasuk membuka akses bantuan pusat seperti helikopter patroli udara dan mempercepat penggunaan anggaran darurat.
Berdasarkan kajian risiko terbaru, lima wilayah yang menjadi perhatian utama yakni Kabupaten Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Berau.
BPBD menekankan penanggulangan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri. Keterlibatan lintas sektor diperlukan, mulai dari pemerintah, perusahaan perkebunan dan kehutanan, hingga masyarakat dan media.
Di lapangan, Tim Reaksi Cepat (TRC) telah disiagakan di seluruh kabupaten dan kota untuk melakukan kaji cepat jika ditemukan potensi kebakaran. Sementara itu, stok logistik darurat, termasuk kebutuhan bagi kelompok rentan seperti bayi, dipastikan dalam kondisi siap.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita,” kata Sugeng. (Ant)


