EKSPOSKALTIM.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo menilai, perkembangan teknologi informasi, selain mebuat kebebasan mengemukakan pendapat menjadi lebih seru, juga banyak dimanfaatkan untuk melakukan hal negatif.
Misalnya menyebarkan berita bohong, saling menghujat dan mencemooh di media sosial, saling menyampaikan ujaran kebencian yang berujung pada keresahan masyarakat.
Baca: AHY Temui Wiranto, Begini Respon Oesman Sapta Odang
Meski diakui bahwa fenomena itu tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di negara-negara dunia.
Sebagai seorang Presiden Republik Indonesia, Jokowi tentu mengalami langsung fenomena sosial itu.
"Misalnya, ada berita puluhan tentara RRC masuk (ke Indonesia) lewat Soekarno-Hatta. Setelah kami cek ke kepolisian, enggak ada dan berita itu enggak benar. Kemudian ada pula kasus penyerangan terhadap ulama. Isunya di media sosial ada 41 kasus, setelah dicek enggak benar. Yang benar hanya tiga kasus, itu pun sedang dalam penanganan serius kepolisian," papar Jokowi.
Baca: Bupati Rita Tampik Terima Gratifikasi Rp 6 Miliar dari Pengusaha Sawit
Kepala Negara menaruh curiga kabar-kabar bohong tersebut beredar di media sosial bukan karena ketidaktahuan, tapi karena ada yang mendesain. Mencoba membuat keruh suasana.
"Rasa-rasanya tidak mungkin berita itu ada karena tidak tahu. Sepertinya itu ya disengaja untuk memperkeruh suasana. Inilah yang harus kita cegah dan kita tindak sesuai hukum yang berlaku," ujar Jokowi.
"Dan itu saya tegas sampaikan ke Polri, tindak tegas pelakunya," lanjut dia.
Tonton juga video-video menarik di bawah ini:
VIDEO: Kampanye Dialogis, Tafadal Disambut Antusias Ratusan Warga di 4 Desa Tellu Siattinge
ekspos tv
VIDEO: Sabu Seberat 43,4 Gram Asal Kaltim Gagal Beredar di Bone
ekspos tv
VIDEO: Bertepatan Imlek, KPU Bone Tolak Tim Umar-Madeng Sampaikan Aspirasi
ekspos tv

