Desa Tanjung Isuy di Kutai Barat dinilai berhasil menjadikan kebudayaan Dayak Benuaq sebagai sistem hidup masyarakat desa hingga meraih Apresiasi Desa Budaya 2025.
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Desa Tanjung Isuy, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, ditetapkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai salah satu penerima Apresiasi Desa Budaya 2025 dalam rangkaian Program Pemajuan Kebudayaan Desa.
Penetapan tersebut merupakan bagian dari puncak kegiatan program yang digelar di Huta Sinapuran, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.
“Desa-desa itu menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat hidup, tumbuh, dan menjadi kekuatan pembangunan dari desa. Ini baru ujung dari gunung es, karena hampir setiap desa di Indonesia memiliki kekayaan ekspresi budaya yang unik dan berbeda satu sama lain,” ujar Fadli Zon.
Selain Tanjung Isuy, empat desa lain yang menerima apresiasi adalah Desa Cibaliung (Banten), Desa Duarato (Nusa Tenggara Timur), Desa Suak Timah (Aceh), dan Desa Tebat Patah (Jambi).
Kelima desa tersebut dinilai berhasil membangun ekosistem kebudayaan desa yang hidup, berkelanjutan, dan berakar kuat pada identitas lokal, serta mampu mengelola kebudayaan sebagai sistem kehidupan yang berdampak sosial, ekologis, dan ekonomi bagi masyarakat.
Tanjung Isuy merupakan kampung yang berada di Kecamatan Jempang, terletak di sisi barat daya Danau Jempang, danau terluas di Kalimantan Timur. Kampung ini mayoritas dihuni oleh Suku Dayak Benuaq, yang hidup berdampingan secara rukun dan menjadikan adat serta tradisi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dalam praktik sosial-budaya, masyarakat Dayak Benuaq di Tanjung Isuy masih mempertahankan tradisi penyambutan tamu melalui tarian adat, yang kerap ditampilkan dalam kegiatan budaya maupun saat menerima kunjungan, termasuk dari wisatawan mancanegara. Praktik ini turut memperkuat transmisi budaya lintas generasi sekaligus memperkenalkan ekspresi budaya lokal ke ruang yang lebih luas.
Di kampung ini juga terdapat tiga rumah adat Dayak Benuaq (Lou) yang masih aktif difungsikan. Lou Taman Jamrud dimanfaatkan sebagai penginapan dan ruang pertunjukan kesenian. Lou Temenggung Marta menjadi pusat berbagai aktivitas adat dan sosial, mulai dari ritual adat, pernikahan adat, musyawarah adat, hingga festival budaya. Sementara Lou Batu Buraq, rumah panjang dengan lantai rotan dan dinding kulit kayu, menjadi sentra kerajinan Tenun Doyo—kain tenun berbahan serat daun doyo yang menjadi wastra khas Dayak Benuaq.
Selain menenun, masyarakat Tanjung Isuy juga mengembangkan kerajinan ukir kayu, seperti patung dan ornamen tradisional, yang kerap dijadikan cinderamata. Aktivitas ekonomi berbasis budaya ini menjadi salah satu penopang keberlanjutan kebudayaan desa.
Secara geografis, Tanjung Isuy berada di kawasan perairan Danau Jempang dan memiliki transportasi khas berupa perahu ketinting, perahu kecil bermotor yang menjadi sarana utama mobilitas masyarakat antarkampung. Di samping itu, digunakan pula perahu bermotor dan long boat untuk menjangkau wilayah sekitar dan melayani aktivitas kunjungan.
Program Pemajuan Kebudayaan Desa merupakan inisiatif strategis Kementerian Kebudayaan yang telah dilaksanakan secara berkelanjutan sejak 2021. Pada tahun 2025, program ini melibatkan 150 desa dari berbagai wilayah Indonesia, setelah sebelumnya menjangkau lebih dari 550 desa dari Sumatera hingga Papua.
Penilaian dilakukan melalui tiga tahapan utama, yakni Temu Kenali, Pengembangan, dan Pemanfaatan, dengan melibatkan dewan juri lintas disiplin dan menitikberatkan pada dampak kebudayaan desa yang berkelanjutan.
Menbud menegaskan kebudayaan merupakan sumber daya yang tidak akan pernah habis selama dijaga dan diwariskan lintas generasi. Karena itu, desa-desa didorong menjadi garda terdepan penjaga kebudayaan nasional.
Melalui Apresiasi Desa Budaya, Kementerian Kebudayaan berharap penghargaan ini menjadi pemantik bagi desa-desa lain untuk menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan sebagai fondasi jati diri serta kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.



