Penyelesaian proyek strategis nasional RDMP Kilang Balikpapan ternyata tidak berjalan mulus. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap adanya dugaan pembakaran disengaja sebagai bagian dari upaya menggagalkan kemandirian energi Indonesia.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) atau revitalisasi Kilang Balikpapan menyimpan cerita kelam di balik rampungnya pembangunan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara terbuka mengungkap bahwa proyek bernilai ratusan triliun rupiah itu sempat diwarnai dugaan sabotase.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat peresmian RDMP Kilang Balikpapan, Senin (13/1), Bahlil menyebut proyek tersebut sarat “drama” yang nyaris menggagalkan target penyelesaian. “Proyek RDMP ini, Bapak Presiden, banyak dramanya. Saya harus jujur katakan, banyak dramanya,” kata Bahlil.
Menurut Bahlil, proyek yang sejatinya ditargetkan selesai pada 2024 itu sempat terhambat akibat insiden kebakaran di salah satu bagian kilang. Namun, ia menilai kebakaran tersebut tidak terjadi secara alami.
“Kami minta dilakukan investigasi. Ternyata ada udang di balik batu. Ada pihak-pihak yang tidak rela kalau Indonesia punya cadangan dan swasembada energi. Maunya impor terus,” ujarnya.
Sayangnya, Bahlil tidak merinci siapa pihak yang dimaksud. Namun, ia menegaskan bahwa insiden tersebut mencerminkan kuatnya kepentingan yang berseberangan dengan agenda kemandirian energi nasional.
Meski menghadapi tekanan dan hambatan serius, pemerintah memastikan proyek strategis tersebut tetap berjalan. RDMP Kilang Balikpapan kini resmi beroperasi setelah menelan investasi sekitar 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp124,79 triliun.
Melalui proyek ini, kapasitas produksi bahan bakar minyak (BBM) meningkat signifikan, dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari dengan standar kualitas Euro V. Indeks Kompleksitas Kilang juga melonjak dari 3,7 menjadi 8, sementara nilai produk naik dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen.
Bahlil menegaskan RDMP Balikpapan merupakan salah satu pilar utama program Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan swasembada energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM dan LPG.
“Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, ketergantungan impor BBM dan LPG bisa ditekan. Kita juga menghasilkan produk berkualitas Euro V yang lebih ramah lingkungan,” kata Bahlil.



