Bontang, EKSPOSKALTIM - Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, mulai melirik sektor kemaritiman sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Upaya ini mencakup pengembangan pelabuhan dan rencana pendirian industri pengalengan ikan untuk mendorong investasi yang lebih beragam.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, Muhammad Aspiannur, menyebut total investasi yang masuk sepanjang 2024 mencapai Rp2,7 triliun. Angka itu terdiri atas penanaman modal dalam negeri Rp2,5 triliun dan penanaman modal asing sekitar Rp2 miliar.
Ia optimistis nilai investasi akan terus meningkat pada 2025 seiring kemudahan berusaha dan pemanfaatan potensi lokal, terutama di sektor kemaritiman.
“Selama ini sektor industri kimia masih mendominasi. Kami berupaya menjaring investasi di sektor lain agar ekonomi Bontang tidak bergantung pada satu bidang saja,” ujarnya, dikutip dari Antara, Kamis (9/10).
Menurutnya, industri pengalengan ikan menjadi langkah hilirisasi perikanan sekaligus strategi diversifikasi ekonomi. Bontang memiliki potensi besar dengan hasil laut unggulan seperti cakalang, tongkol, dan tuna.
Untuk memperkuat langkah itu, Pemkot Bontang menggandeng tim dari Universitas Mulawarman dalam penyusunan kajian teknis dan strategis. Kajian tersebut menyoroti efisiensi transportasi laut dan pengembangan pelabuhan terintegrasi sebagai fondasi peningkatan investasi maritim.
“Pelabuhan yang terhubung dengan jaringan logistik nasional akan memperlancar distribusi barang dan memperkuat daya saing ekonomi daerah. Pelabuhan modern juga membuka peluang ekspor bagi pelaku usaha lokal, terutama sektor perikanan dan industri kreatif,” kata Aspiannur.
Ia menjelaskan, pengembangan pelabuhan menjadi bagian dari Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) Kota Bontang yang disiapkan sebagai acuan kebijakan investasi jangka panjang, termasuk regulasi yang lebih adaptif bagi sektor maritim.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga tengah melakukan kajian pemetaan potensi dan peluang investasi maritim di Bontang menggunakan pendekatan SWOT.
“Bahan baku ikan dari nelayan lokal cukup melimpah, tapi kami tetap menyiapkan kajian keberlanjutan agar produksi bisa bertahan hingga puluhan tahun ke depan,” tutupnya.

