EKSPOSKALTIM, Bontang – Selama menjalankan ibadah puasa, masalah bau mulut seringkali menimbulkan ketidaknyamanan, membuat minder dan juga menjadi hambatan dalam pergaulan seseorang. Kondisi ini dalam istilah medis disebut halitosis dan pada umumnya disebabkan penyakit seperti diabetes, merokok, penyakit ginjal, dan gangguan perut. Faktor lainnya adalah aktivitas bakteri yang berada di dalam mulut..
drg Resza Rizky Amalia, atau yang lebih dikenal dengan drg Ririz menjelaskan halitosis adalah nama lain dari bau mulut, yang keluarnya dari bibir pecah – pecah. "Cara mengatasi bau mulut atau bibir pecah – pecah, yang pertama kita harus memeriksakan gigi kita ke dokter gigi. Karena di dokter gigi bisa di bersihkan seperti karang gigi, dilihat dalam pemeriksaan ada gigi berlubang atau tidak, sisa akar gigi yang masih tinggal atau tidak bisa dipertahankan,” katanya, saat ditemui di Rumah Sakit Islam Bontang, Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Utara, Selasa (7/6/2016)
Lebih jauh Ririz menjelaskan, dalam menyikapi bau mulut, yang harus juga diperhatikan adalah menyikat gigi dengan baik dan benar.
"Bagai mana cara kita menyikat gigi, karena menyikat gigi itu harus yang baik dan benar. Jangan lupa untuk menyikat pada bagian lidah, karena lidah adalah salah satu penyebab bau mulut,“ jelasnya
Ririz menambahkan, saat berpuasa, produksi air liur dalam mulut dan dalam saluran pencernaan berkurang, sehingga menjadi lebih kering. Akibatnya, timbul bau mulut.
“Selain kita harus gosok gigi agar terhindar dari bau mulut, kita juga jangan lupa minum air mineral minimal 8 gelas air setiap hari. Jadi setiap sehabis sahur kita langsung gosok gigi dan sesudah berbuka juga langsung gosok gigi, dan jangan lupa minum air mineral sebanyak 8 gelas pas sahur dan berbuka puasa," pungkasnya.
Bau mulut juga dapat disebabkan penyakit sistemis seperti liver, lambung, saluran pernapasan serta ginjal akut. Sedangkan penyakit gigi dan mulut penyebab napas tak segar di antaranya gigi berlubang, radang gusi, gingivitis karena karang gigi, dan peradangan pada jaringan pendukung gigi (periodontitis.red).

