EKSPOSKALTIM.com, Samarinda - Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Djuwita F Moeloek meresmikan instalasi nuklir sebagai fasilitas kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda, Kalimantan Timur, 26 Maret 2018.
Dalam kesempatan tersebut, menurut Nila, melalui fasilitas instalasi nuklir ini, maka RSUD AW Sjahranie merupakan bagian dari salah satu RSU di Indonesia yang sudah bisa menangani pasien penderita penyakit kanker.
"Sebelumnya hanya ada tiga RSU di Indonesia yang bisa menangani penderita kanker, dan RSUD Abdul Wahab Sjahranie ini merupakan RSU yang keempat," kata Nila dalam sambutannya.
Baca: DPRD Kaltim Sesalkan Pengelolaan Migas Minim Libatkan Pengusaha Lokal
Nila mengaku bangga dengan fasilitas pelayanan kesehatan yang dimiliki oleh RSUD yang sudah bertaraf internasional di Bumi Etam. Ia pun berharap keberadaan RSUD tersebut bisa dimanfaatkan sebaik- baiknya oleh masyarakat. Utamanya, tidak perlu lagi berobat ke luar negeri.
"Dulu mungkin banyak warga Kaltim yang berobat ke negara Singapura dan Malaysia, sekarang harus kita dorong supaya masyarakat sana (luar negeri) berobat kesini," jelasnya.

Menkes Nila Djuwita F Moeloek (dua kanan) saat melihat ruangan di instalasi nuklir Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda.
Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak saat ditemui awak media menemani Menkes Nila, mengatakan Pemprov Kaltim berkomitmen dalam meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Komitmen ini, kata Awang, dengan mewujudkan fasilitas yang lengkap di seluruh RSU milik pemerintah.
"Tak hanya fasilitas, tapi kami juga terus mendorong gerakan masyarakat hidup sehat, supaya warga Kaltim bisa terus hidup sehat dan sejahtera," harap Awang.
Meskipun baru diresmikan, sejatinya penggunaan fasilitas instalasi nuklirdi RSU AWS tersebut sudah digunakan sejak 8 Januari 2018 lalu.
Baca: Wakil Ketua DPRD Kaltim Non Aktif Dody Rondonuwu Segera di-PAW
Direktur Utama RSUD AWS dr Rachim Dinata menjelaskan, bahwa hingga saat ini, terhitung sudah lebih dari 30 pasien yang menjalani pengobatan.
Kata Rachim, instalasi kedokteran nuklir baru ada di 4 provinsi, yakni Bandung (Jawa Barat), DKI Jakarta, Semarang (Jawa Tengah) dan Samarinda (Kaltim).
"Selama ini, kalau ada pasien kita rujuk ke Bandung untuk diagnostik, hampir semua fungsi organ bisa kita nilai fungsinya, karena kedokteran nuklir itu berbeda dengan radiologi. Kalau radiologi itu melihat anatomi, kalau kedokteran nuklir itu bisa melihat fungsi suatu organ," terangnya.
Instalasi kedokteran nuklir bisa digunakan untuk mendiagnosa penyakit kanker, jantung dan penyakit lainnya dengan lebih canggih. Selain itu, kedokteran nuklir ini juga dapat digunakan untuk terapi. Antara lain ablasi tiroid, ablasi hypertiroid, dan terapi untuk menghilangkan rasa nyeri pada pasien yang sudah mengalami metastasis hampir di seluruh tulang. Fasilitas ini dibiayai oleh APBN dengan nilai sekitar Rp 5 miliar. (*)
Tonton juga video-video menarik di bawah ini:
VIDEO: Polres Bone Inisiasi Deklarasi Anti Hoax
ekspos tv
VIDEO: Lembaga Adat Besar Kutim Sambangi PT Indominco
ekspos tv
VIDEO: Basarnas Bone Gelar Pelatihan Downward
ekspos tv
VIDEO: Gerbong Mutasi, Empat Perwira Polres Bone Dirotasi
ekspos tv
VIDEO 813 Turn Back Crime: Operasi Sabhara Polres Bontang
ekspos tv
VIDEO Ekspos On Vacation (EOV): Keindahan Pantai Sekerat
ekspos tv
VIDEO Ekspos Kuliner: Whymilk Cafe
ekspos tv

