EKSPOSKALTIM, Bontang – Saban hari di pagi buta, saat sebagian besar masyarakat tertidur pulas, Nuraeni sudah berada di tepi jalan. Bahu jalan yang rutin disasar Nuranei untuk dibersihkan, yakni di sepanjang ruas Jalan Protokol Kota Taman.
Mengenakan seragam khas pasukan kuning, Nuraeni tampak gigih mengayuh sapu lidi yang akrab di tangan kirinya. Ia menyambut ramah saat awak media ini menghampirinya.
Persoalan gaji lah yang menjadi topik utama dalam obrolan, pagi tadi. Penghasilan dari menyapu jalan, kata warga Tanjung Limau ini, hanya cukup untuk menghidupi 4 orang anaknya. Sementara penghasilan suaminya yang berprofesi sebagai nelayan juga masih jauh dari kata cukup.
Sebagai pekerja harian lepas (PHL) Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bontang, setiap bulan ia hanya menerima upah sekira Rp 2,1 juta. Itu pun tak penuh ia terima. Mesti dipangkas lagi sebesar Rp 670 ribu untuk biaya jaminan kesehatan.
"Kalau sampai tanggal 31 saya dapat upah Rp 2,1 juta, namun ada potongan," ujarnya.
Bekerja sejak Februari 2002, ia berharap ada perhatian lebih untuk PHL seperti dirinya. “Supaya dapat bertahan hidup dengan layak,” kata dia.
"Saya biayai 4 orang anak dan suami pendapatnya tidak tetap. Olehnya itu kami yang bekerja sudah lama sebagai PHL dapat perhatian lah dari pemerintah apalagi ini kami enggak dapat THR," tuturnya.
Namun demikian, diakuinya pemerintah di zaman ia bekerja hingga saat ini sudah terbilang bagus. "Sejak saya kerja sampai pemerintahan Bu Neni semua baik-baik saja . Ya itu tadi, kami cuma mengharapkan ada perhatian lebihlah buat kami yang sudah lama bekerja," harapnya. (*)

