EKSPOSKALTIM, Mahulu- MAHALNYA biaya pendidikan di perguruan tinggi saat ini, menjadi alasan tersendiri bagi Elisabet Helen Dau untuk mengurungkan niat kuliahnya sementara waktu dan memilih untuk langsung terjun ke dunia kerja.
Pasca lulus dari SMK Bakti Loa Janan, Kutai Kartanegara tahun 2014 silam Helen, sapaan karibnya, langsung mengabdi sebagaiTenaga Kerja Kontrak (TKK) di Pemkab Mahulu. Kini perempuan yang mengambil jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) itu menimba pengalaman menjadi sekretaris Kepala Dinas Pendidikan dan Budaya (Kadisdikbud) Mahulu.
Perempuan kelahiran Memahak Besar, 19 Agustus 1998, ini bertekad untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan orang tua lagi. Sembari mengumpulkan pengalaman mengurus kesekretariatan dinas, sebagian pendapatannya Helen sisihkan untuk bekal modal kuliah nanti.
"Rencana kuliah di Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Sudah sempat ngisi formulir pendaftaran, tapi disuruh balik ke kampung sama orang tua, katanya kerja aja. Karena memang biaya juga tidak mendukung," ujar perempuan berkulit putih khas perempuan Dayak ini.
Selain alasan ekonomi yang mendesak untuk pulang kampung, sebelumnya Helen memang sudah lama tinggal di kota dan meninggalkan kampung halaman. Terhitung sejak ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 008 Samarinda sampai 2011 untuk menyelesaikan SMK di Kukar.
"Iya sih, saya juga jarang pulang kampung. Kecuali hari libur panjang baru pulang sekali-sekali," aku Helen anak bungsu dari lima bersaudara.
Anak dari pasangan Leonardus Jo Kuwai (almarhum), dan Felisia Telan ini harus berfikir keras untuk terjun ke dunia kerja di usia muda. Ini Ia dijalani demi keinginan keluarganya.
Tahun 2015 lalu, Ia mengawali karirnya dengan bekerja di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Ujoh Bilang, Ibukota Kabupaten Mahakam Ulu. Bekerja selama hampir satu tahun lalu ia berhenti lantaran kontrak kerjanya tak berlanjut.
"Kontraknya setahun dari Januari - Desember 2015. Tapi saya mulai aktif bulan Maret. Gaji saya waktu itu sekitar 4 jutaan. Tapi bisanya diambil pas setelah keluar, jadi kayak nanggung gitu, he-he," katanya sembari tersenyum.
Setelah berhenti dari ULP tersebut, Ia pun harus mencari kerjaan lain karena tak ingin menganggur.
Sempat kesana kesini mencoba peruntungan di beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada kesempatan kerja tak kunjung didapati.
"Saya masukkan lamaran dua-duanya, saya sempat pasrah karena lama tidak ada panggilan, sekitar satu bulanan. Akhirnya yang pertama memanggil saya di Disdikbud. Saya masukkan lamaran bulan Mei, dipanggil bulan Juni lalu," katanya.
Helen pun memulai pekerjaan barunya. Sebenarnya berkerja sebagai TKK bukan pekerjaan pilihan utamanya, namun harus ia terima karena melihat situasi sulit mendapat pekerjaan saat ini.
"Sebagai Sekretaris ini, kerjanya buat surat undangan rapat, menerima surat masuk dan membuat surat yang akan keluar dari kantor. Kerjanya gitu aja sih," katanya.
Ia mengatakan, bekerja di Disdikbud dari dulu, dan sekarang, harus supel dalam pergaulan dengan TKK atau pegawai lainnya. Saat ini Helen pun sudah bekerja tak kurang dari sepuluh bulan.
"Pekerjaannya dibawa enjoy aja. Selama saya disini akur-akur aja sama yang lain. Percaya diri ajalah," cetusnya.
Di Ujoh Bilang, Helen menyewa rumah bersama kakak keempatnya yakni Evansius Liah yang juga bekerja di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di kantor Bupati Mahulu. Menyewa rumah tentunya harus mengeluarkan biaya, juga kebutuhan dirumah sehari-hari.
Gajinya sebagai TKK hanya Rp 2,2 juta rupiah. Jauh dari angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL), dan harga kebutuhan bahan pokok yang serba tinggi di Mahulu. "Biaya rumah Rp 1,5 juta. Untungnya bisa bagi dua dengan kakak," ujarnya.
Selain memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan menabung untuk kuliah, Helen juga rutin tak lupa mengirim uang kepada orang tuanya yang di Memahak Besar yang tinggal bersama kakak ketiganya yaitu Katarina Lahai.
Helen menyadari selama ayahnya tiada sejak 2013 lalu, Ia harus memberi nafkah kepada ibunya. "Setiap bulan kirimkan Ibu uang Rp 1 juta. Karena Ibu tidak bekerja dan ayah sudah gak ada," ucapnya.
Harapan terbesar dan fokus Helen saat ini ialah membahagiakan orang tuanya. Selama masih mampu bekerja dan masih muda, Helen juga berencana jika mempunyai uang lebih nanti, rumah yang ditempati ibunya saat ini di Memahak Besar yang luasnya 6 x 8 meter, akan Ia perbesar menjadi 6 x 10 Meter.
"Ini masih nabung, nanti kalau cukup baru saya rombak rumah Ibu. Mumpung masih muda bahagiain dulu orang tua," tutupnya

