EKSPOSKALTIM, Mahulu – Pelaksana tugas sementara (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (disdikbud) Mahakam Ulu Feridiana Hendoq mengatakan banyak tenaga pengajar yang ada bukan merupakan putra-putri asli daerah.
Dari pengalaman yang ada, kebanyakan mereka yang mempunyai keahlian sebagai tenaga pengajar usai menimba ilmu di perguruan tinggi, justru memilih mengajar di Kabupaten lain, seperti Kutai Barat (Kubar) dan Kutai Kartanegara (Kukar).
Menurutnya, kebanyakan tenaga pengajar hanya menjadikan Mahulu sebagai jembatan karir bagi mereka untuk bisa bekerja di luar. Otomatis mereka bisa berpindah semaunya kapanpun jika mereka sudah tak betah.
"Bukan kita tidak mau orang luar mengajar disini. Tapi kita kan butuh tenaga yang bisa menetap untuk mengajar dan bekerja disini," katanya ditemui di kantor Disdikbud, Jalan Apo Medo, Kampung Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Senin (20/3).
Ia pun menyarankan, tenaga pengajar honorer maupun pegawai negeri sipil asli daerah bisa membagi ilmunya kepada siswa-siswi di Mahakam Ulu.
“Juga dapat mengabdi sebagai tugas dan tanggung jawab sebagai putra asli daerah,” jelas Feridiana.
"Kalau bisa jadi tenaga pengajar tetap lah disini tanpa harus pindah lagi ke daerah lain. Ini juga demi putra-putri yang ada di Mahulu," ucapnya.
Feridinia menduga, migrasi tenaga pengajar ke luar daerah lantaran tidak merasa betah dengan kondisi serba keterbatasan di Mahakam Ulu. “Dengan melihat kondisi kebutuhan hidup yang serba mahal dan terbilang susah,” lanjut Feridiana.
"Mungkin saja mereka tidak tahan dengan kehidupan disini. Ya, kita tahu sendiri sebagai Kabupaten baru, harus siap bersusah-susah di awal. Apalagi Mahulu ini jauh ke pelosok," tutupnya. (Adv)

