Di pesisir Berau, hutan mangrove yang dulu kerap dianggap penghalang kini justru menjadi kunci panen yang lebih melimpah. Lewat pendekatan baru yang memadukan budidaya dan konservasi, para petambak mulai membuktikan bahwa menjaga alam bisa berjalan seiring dengan peningkatan pendapatan.
EKSPOSKALTIM, Berau - Di kawasan pesisir Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, sebuah perubahan perlahan tumbuh di antara hamparan tambak dan rimbunnya hutan mangrove. Apa yang dulu dianggap dua kepentingan yang sulit dipertemukan, ekonomi dan pelestarian lingkungan, kini mulai berjalan beriringan.
Di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran, para petambak menikmati hasil panen yang tidak hanya menjanjikan secara ekonomi, tetapi juga lahir dari cara budidaya yang lebih ramah terhadap alam.
Perubahan itu hadir melalui penerapan metode Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE), sebuah sistem budidaya yang menggabungkan peningkatan produktivitas tambak dengan upaya pemulihan ekosistem pesisir.
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dinas Perikanan Kabupaten Berau, dan masyarakat setempat dalam Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE).
Lebih dari sekadar panen, keberhasilan itu menjadi penanda bahwa masa depan perikanan pesisir tidak harus dibangun dengan mengorbankan benteng alami yang selama ini melindungi kawasan pantai.
Menuju Cara Baru Bertambak
Selama bertahun-tahun, perluasan tambak sering dilakukan dengan membuka kawasan mangrove. Praktik tersebut memang memberi tambahan ruang budidaya, tetapi dalam jangka panjang justru memunculkan persoalan baru.
Kualitas air menurun, kondisi tanah memburuk, dan produktivitas tambak menjadi semakin tidak stabil. Hilangnya mangrove juga mengurangi sumber pakan alami yang selama ini menopang kehidupan udang dan ikan.
SECURE menawarkan pendekatan yang berbeda.
Alih-alih memperluas lahan, sistem ini mengutamakan efisiensi dan keseimbangan ekologi. Hanya sekitar 20 persen area yang digunakan untuk kegiatan budidaya, sementara 80 persen sisanya dipertahankan atau dipulihkan menjadi kawasan mangrove.
Sekilas konsep itu terdengar berisiko. Namun hasil di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.
Abdul Rahman, petambak di Kampung Pegat Batumbuk, menjadi salah satu contoh keberhasilan tersebut.
Sebelum menerapkan SECURE, seluruh area tambaknya digunakan untuk budidaya. Saat itu produksi udang windu rata-rata hanya mencapai sekitar 100 kilogram setiap musim panen.
Kini, meski area budidaya berkurang drastis, hasil yang diperoleh justru meningkat.
Pada panen awal Juni lalu, tambaknya menghasilkan 115 kilogram udang windu, 141 kilogram udang bintik, sekitar 1,9 ton ikan bandeng, serta 50 kilogram kepiting bakau.
Peningkatan produksi udang windu sekitar 15 persen itu menunjukkan bahwa kualitas pengelolaan dan kesehatan lingkungan jauh lebih menentukan dibanding sekadar luas lahan yang digunakan.
Belajar dari Alam
Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan.
Melalui sekolah lapang dan pendampingan intensif, para petambak diperkenalkan pada cara budidaya yang lebih selaras dengan proses alami.
Mereka belajar membuat kompos dan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari bahan-bahan organik yang tersedia di sekitar tambak.
Kompos digunakan untuk meningkatkan kesuburan dasar perairan sekaligus merangsang pertumbuhan pakan alami. Sementara MOL membantu menjaga keseimbangan kualitas air dan menekan risiko serangan penyakit.
Pendekatan itu membuat kebutuhan pakan tambahan maupun bahan kimia menjadi lebih rendah sehingga biaya produksi dapat ditekan.
Perubahan lain datang melalui penerapan sistem nursery atau pendederan.
Jika sebelumnya benih langsung ditebar ke kolam pembesaran, kini benih terlebih dahulu dipelihara di kolam khusus hingga cukup kuat menghadapi kondisi lingkungan yang lebih besar.
Metode ini dirasakan langsung manfaatnya oleh Jumardi, petambak dari Kampung Suaran yang mengelola tambak bersama ayahnya, Satar.
Menurutnya, tingkat keberhasilan budidaya meningkat setelah benih memperoleh masa adaptasi yang cukup sebelum dipindahkan ke kolam utama.
Hasilnya terlihat nyata.
Dalam satu kali panen, tambak mereka mampu menghasilkan 284,2 kilogram udang windu dan 120 kilogram udang bintik dengan hasil yang lebih stabil dibanding sebelumnya.
Mangrove sebagai Penopang Kehidupan
Di balik peningkatan produktivitas itu, mangrove memegang peran yang sangat penting.
Bukan sekadar pohon yang tumbuh di tepian pantai, mangrove berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi dan gelombang laut. Ekosistem ini juga dikenal sebagai salah satu penyerap karbon paling efektif di wilayah pesisir.
Bagi petambak, manfaatnya terasa lebih dekat.
Akar mangrove membantu menyaring air, menjaga kestabilan kadar garam, serta menyediakan habitat alami bagi berbagai organisme yang menjadi sumber pakan udang dan ikan.
Ketika mangrove terjaga, kualitas lingkungan tambak ikut membaik. Risiko gangguan akibat perubahan cuaca maupun penurunan kualitas air dapat ditekan.
Karena itulah, meski area budidaya berkurang, produktivitas justru meningkat karena ekosistem yang menopangnya kembali sehat.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Abdul Majid, menilai pendekatan tersebut sebagai contoh bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak harus berjalan berlawanan arah.
"Pendekatan ini menunjukkan bahwa budidaya dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Selain meningkatkan hasil budidaya, model SECURE juga menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat," ujarnya.
Harapan dari Pesisir Berau
Bagi Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, keberhasilan program ini bukan semata soal bertambahnya jumlah panen.
Lebih dari itu, SECURE menunjukkan bahwa masyarakat dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan alam tanpa kehilangan sumber penghidupan.
"Ketika mangrove dipulihkan dan kapasitas petambak diperkuat, kita dapat melihat sistem pengelolaan yang lebih tangguh, baik secara ekonomi maupun ekologis," katanya.
Kisah dari Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran menjadi bukti bahwa menjaga alam bukan hambatan bagi kesejahteraan. Justru sebaliknya, ketika ekosistem dirawat dengan baik, alam memberikan hasil yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Di pesisir Berau, mangrove yang dahulu sering dianggap penghalang kini berubah menjadi sekutu. Dari akar-akar yang menancap di lumpur pantai itulah tumbuh harapan baru bahwa pembangunan, kesejahteraan, dan kelestarian alam dapat berjalan bersama.




