PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Menembus dinding fisik pendidikan kita

Home Berita Menembus Dinding Fisik Pe ...

Menembus dinding fisik pendidikan kita
ILUSTRASI proses belajar mengajar. Foto: Istimewa

Bayangkan sebuah kelas tanpa meja kursi, tanpa papan tulis, tanpa tatap muka, juga tanpa suara. Aneh tapi nyata: percakapannya justru lebih hidup, argumennya lebih tajam, dan keterlibatannya terasa lebih dalam.

Oleh Nashruddin Qawiyurrijal

INI seperti menabrak keyakinan lama kita bahwa belajar harus selalu hadir secara fisik. Sesungguhnya dari ruang yang tak berwujud itulah, makna belajar sedang ditulis ulang.

Ruang-ruang kelas fisik selama ini cenderung dianggap sebagai tempat sakral untuk belajar. Ada semacam keyakinan kuat bahwa tanpa tatap muka, transfer ilmu hanyalah proses mekanis yang hambar dan kehilangan ruhnya.

Pengalaman penulis selama setahun terakhir sebagai teaching fellow pada sesi tutorial online di Universitas Terbuka (UT) justru bercerita sebaliknya.

Mengampu empat kelas dengan total dua ratus mahasiswa dalam mata kuliah Komunikasi Multikultural bukan sekadar urusan administratif, tetapi sebuah ujian kepemimpinan akademik di ruang digital yang sesungguhnya.

Dua ratus adalah angka yang besar, bahkan untuk ukuran kelas universitas konvensional. Di sistem luring, jumlah ini mungkin akan menguras energi pengajar di depan kelas. Namun, di dalam ekosistem tutorial online yang sudah matang, angka ini bertransformasi menjadi kekayaan perspektif yang luar biasa luas.

Di sini, demokratisasi pendidikan bukan lagi sebatas jargon dalam pidato seremoni Hari Pendidikan Nasional, melainkan realitas yang berdenyut di setiap forum diskusi mingguan. Semangat Ki Hadjar Dewantara untuk memerdekakan manusia melalui akses ilmu pengetahuan menemukan bentuk barunya di balik layar gawai.

Bukan kelas "dingin"

Banyak pihak yang masih sangsi, bagaimana mungkin membangun kedekatan emosional dengan ratusan orang tanpa pernah bertemu muka secara fisik? Jawabannya terletak pada kualitas atensi, bukan pada jarak.

Di ruang digital, teks adalah nyawa. Penulis mendapati fenomena unik: mahasiswa yang biasanya memilih duduk di kursi paling belakang dan cenderung diam dalam kelas fisik, justru tampil sangat vokal, reflektif, dan berani dalam narasi tertulis.

Format asinkron memberikan mereka kemewahan waktu untuk mengendapkan pikiran, melakukan riset kecil, dan menyusun argumen dengan struktur yang rapi sebelum mengetik tanggapan di kolom diskusi.

Hasilnya adalah sebuah perdebatan akademik yang jauh lebih berkualitas dan mendalam ketimbang sekadar sahutan spontan di ruang kelas yang sering kali hanya dikuasai oleh segelintir mahasiswa yang dominan secara verbal.

Tantangan bagi seorang tutor di sini adalah menjaga agar interaksi tetap terasa "hangat" dan manusiawi. Menyapa nama mahasiswa secara personal, memberikan umpan balik yang spesifik terhadap argumen mereka, serta menunjukkan bahwa setiap baris tulisan mereka benar-benar dibaca dengan cermat adalah sebuah keharusan.

Dalam skala besar ini, pengajar butuh kedisiplinan empati yang sangat tinggi. Kita tidak sedang menilai deretan angka statistik di dashboard, melainkan berinteraksi dengan manusia —individu-individu tangguh yang sering kali baru sempat belajar di sela jam istirahat kerja yang singkat atau di tengah malam saat seluruh urusan domestik rumah tangga telah tuntas.

Miniatur Indonesia yang hidup

Mengajar mata kuliah Komunikasi Multikultural di Universitas Terbuka ibarat melihat Indonesia dari lubang kunci yang sangat jernih.

Dalam satu kelas yang sama, penulis berhadapan langsung dengan realitas sosiologis yang sangat heterogen: mahasiswa yang sedang bertugas sebagai aparat di pelosok daerah terpencil, pekerja migran di luar negeri, hingga profesional di kota metropolitan.

Heterogenitas ini adalah laboratorium sosial yang sesungguhnya, yang sulit ditemukan dalam satu ruang kelas di universitas konvensional yang cenderung homogen terutama secara profesi.

Saat mendiskusikan isu sensitif seperti identitas, toleransi, atau relasi kuasa, argumen yang muncul sangatlah autentik. Para mahasiswa tidak sekadar mengutip teori dari buku teks yang kaku, tetapi membenturkannya dengan realitas sosial serta pengalaman hidup yang mereka alami sehari-hari di lapangan.

Tugas pengajar di sini bukan untuk menyeragamkan pikiran atau mencari satu kebenaran tunggal, tetapi memastikan bahwa benturan gagasan itu tetap berada dalam koridor etika akademik dan rasa saling menghargai. Dalam forum inilah, mereka secara tidak langsung mempraktikkan hal terpenting dalam multikulturalisme: merawat toleransi dan kedewasaan bersikap justru saat perbedaan argumen sedang memuncak di kolom komentar.

Menjaga standar, menghapus jarak

Satu hal krusial yang patut digarisbawahi dari model ini adalah kematangan sistemnya.

Sering kali, banyak institusi pendidikan mencoba "mendadak digital" karena desakan keadaan tanpa persiapan infrastruktur dan mentalitas yang memadai.

Universitas Terbuka memiliki posisi yang berbeda karena desain pembelajarannya memang sudah dirancang untuk skalabilitas masif tanpa mengorbankan mutu akademik. Jarak geografis berhasil dihapus sepenuhnya, namun standar evaluasi tetap dijaga dengan sangat ketat melalui sistem yang terintegrasi.

Tentu saja, sistem secanggih apa pun akan gagal jika pengajarnya hanya bersikap "administratif"—yakni mereka yang sekadar menggugurkan kewajiban centang kehadiran dan memberi nilai tanpa memberikan bimbingan substantif. Kepercayaan publik pada pendidikan terbuka sangat bergantung pada integritas ‎tutor dalam memoderasi proses belajar.

Menatap semester-semester berikutnya, penulis merasakan beban ini bukan sekadar tugas rutin mengajar. Ini adalah tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa pintu akses pendidikan tinggi yang sudah terbuka lebar ini tetap memiliki martabat dan taji yang sama kuatnya dengan pendidikan tatap muka.

Melampaui batas fisik

Hari Pendidikan Nasional tahun ini harus menjadi titik balik bagi kita semua untuk berhenti membedakan antara pendidikan konvensional dan pendidikan daring secara kaku dan dikotomis. Keduanya memiliki peran besar dan strategis jika tujuannya memang mencerdaskan kehidupan bangsa secara merata.

Perdebatan mengenai mana yang lebih unggul sudah sepatutnya usai, digantikan oleh fokus bersama pada bagaimana mutu pendidikan bisa tersebar merata hingga ke beranda terdepan republik ini.

Pengalaman penulis bersama dua ratus mahasiswa di setiap semester ini, membuktikan secara nyata bahwa dinding fisik kelas sebenarnya sudah runtuh. Pendidikan kini benar-benar bisa diakses dari mana saja dan oleh siapa saja, selama ada sistem yang andal serta pengajar yang mau hadir secara intelektual maupun emosional di balik layar.

Kualitas pendidikan tidak lagi ditentukan oleh seberapa megah gedung kampus atau seberapa luas perpustakaan fisiknya, melainkan oleh seberapa luas manfaat ilmu itu mampu menjangkau mereka yang selama ini terhalang oleh sekat jarak, keterbatasan waktu, dan impitan ekonomi.

Inilah esensi dari Merdeka Belajar yang sesungguhnya: pendidikan yang membebaskan manusia dari batas-batas fisik untuk terus tumbuh dan berkontribusi bagi bangsa. (*)

Penulis adalah pengajar Komunikasi Multikultural di Universitas Terbuka dan praktisi komunikasi publik di Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :