EKSPOSKALTIM, Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memperketat pengawasan di kawasan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Samarinda, menyusul insiden kapal ponton bermuatan batu bara yang menabrak pilar jembatan pada Selasa (23/12). Insiden ini memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan infrastruktur vital tersebut.
Kepala Satpol PP Kaltim, Munawwar, menegaskan pengamanan jembatan kini menjadi prioritas utama. Berdasarkan inspeksi visual awal di lapangan, ditemukan kerusakan signifikan pada sistem pengaman jembatan.
“Satu unit fender pengaman jembatan dilaporkan hilang, sementara satu unit lainnya ditemukan dalam kondisi rebah akibat benturan keras. Sesuai instruksi Gubernur, keselamatan publik adalah prioritas tertinggi. Kami belum bisa menyatakan jembatan sepenuhnya aman hingga ada hasil audit teknis resmi dari Dinas PUPR,” ujar Munawwar, di Samarinda, Rabu.
Sebagai tindak lanjut, Satpol PP Kaltim berkoordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda, Polisi Perairan dan Udara (Polairud), Polresta Samarinda, serta Dinas PUPR Kaltim untuk pengamanan terpadu.
Sebagai langkah darurat, KSOP Samarinda telah menerbitkan Notice to Mariners (NtM) yang melarang kapal bermuatan besar melintas di bawah bentang Jembatan Mahulu selama proses survei dan pemeriksaan struktur berlangsung.
Di lokasi kejadian, Satpol PP memasang spanduk peringatan dan larangan melintas bagi kapal atau ponton bermuatan di atas 200 feet yang mendekati area pilar jembatan.
“Pemasangan spanduk ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini bagi para nakhoda dan pengguna jalur sungai. Kami memberikan peringatan keras; jika masih ada yang melanggar ketentuan ini, tindakan tegas akan diambil oleh KSOP dan Polairud sesuai kewenangan hukum yang berlaku,” tegas Munawwar.
Sementara itu, mobilitas kendaraan di atas jembatan masih diberlakukan secara terbatas. Kendaraan berat diimbau menggunakan jalur alternatif guna mengurangi beban dinamis pada struktur jembatan.
“Kami sedang menunggu hasil pemeriksaan menyeluruh dari tim ahli jembatan Dinas PUPR. Apabila hasil kajian menyatakan ada risiko struktural, kami tidak akan ragu untuk melakukan penutupan total demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.


