EKSPOSKALTIM, Balikpapan – Ancaman kepunahan mengintai beragam bahasa Dayak di Kalimantan Timur. Dari sub etnis Punan, Basap, Kenyah, hingga Bahau, pewarisan bahasa ibu terus menipis.
“Sejumlah bahasa daerah dari berbagai sub-etnis Dayak di Kaltim terancam punah atau bahkan sudah punah akibat minimnya penutur dan generasi muda yang tidak lagi menggunakan bahasa warisan leluhur mereka dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ketua Harian Dewan Kesenian Kaltim, Hamdani, Jumat (18/4).
Inventarisasi Kantor Bahasa Provinsi sebenarnya sudah mencatat puluhan dialek yang kritis—keragaman yang semula jadi kebanggaan. Namun kondisinya kini kian sulit dijaga karena makin sedikitnya penutur aktif.
Perbedaan kosakata dan makna antar sub etnis tak jarang menimbulkan kesalahpahaman. “Akibatnya, ketika bertemu dalam acara masyarakat Dayak dari berbagai sub-etnis cenderung memilih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar,” ungkapnya, dikutip dari Antara.
Sementara itu, tradisi lisan membuat banyak manuskrip dan catatan sejarah lokal lenyap tanpa jejak. “Ini menjadi kelemahan besar dalam mendokumentasikan bahasa daerah dan tulisan-tulisan masa lalu,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Dewan Kesenian Kaltim menerbitkan buku dokumenter pada 2022 yang merekam tarian, lagu, tradisi, bahkan kosakata hampir punah.
Namun untuk memastikan keberlanjutan, sinergi antar pihak mutlak dibutuhkan: pemerintah daerah, tokoh adat, lembaga pendidikan, hingga generasi muda di media sosial.
Ia mendorong sekolah sebagai pusat pembelajaran memasukkan bahasa Dayak dalam ekstrakurikuler. Lalu, platform digital yang memuat aplikasi dan kanal video untuk belajar kosakata, cerita, dan aksara. Festival budaya hybrid juga penting untuk memadukan pertemuan fisik dan virtual demi mempertemukan semua sub etnis.
Mari aktifkan kembali bahasa ibu dalam percakapan sehari hari—di rumah, warung kopi, hingga media sosial—sebelum warisan ini benar benar hilang.

