EKSPOSKALTIM, Bontang- Meningkatkan mutu pendidikan adalah salah satu komitmen Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni dan Wakil Wali Kota Basri Rase masa kampanye dulu. Setelah satu tahun memimpin, 23 Maret 2017 hari ini, beberapa poin sudah dalam proses realisasi. Ada juga yang belum tersentuh.
Pemberian seragam, sepatu dan tas gratis bagi siswa-siswi sekolah misalnya. Wujud program ini sudah dalam tahap pengumpulan data di tiap sekolah. Di sisi pengadaan, proyek ini disebut akan masuk tahap lelang April mendatang.
Sekitar Rp 18 miliar siap digelontorkan pemerintah. Dari kesepakatan tim anggaran, angka itu dibagi tiga, seragam Rp 6,6 miliar, sepatu Rp 6,7 miliar, dan tas sekolah Rp 5,9 miliar.
Kepala Sekolah Dasar Negeri 008 Bontang utara Edy Dwiharsana mengatakan, terkait pemberian bantuan seragam gratis, dua minggu lalu sekolahnya menerima perintah dari Dinas Pendidikan untuk mendata nama siswa dan siswi calon penerima bantuan.
“Soal bantuan seragam, kami baru disuruh untuk mendata nama untuk ukuran bajunya,” katanya, saat dijumpai di ruangannya, Rabu (22/3) siang.
Sebanyak 480 siswa -siswi telah didata. Mulai dari kelas I hingga kelas V. Sedangkan siswa kelas VI, menurut ketentuan tidak akan menerima bantuan lantaran mendekati kelulusan.
“Yang didata kemarin untuk ukuran baju dan celana, juga sepatu,” sebut Edy.
Ditanya soal tunjangan, baik tunjangan profesi guru atau tunjangan kinerja kerja (e-performance), Ia menyebut tunjangan profesi sudah diakomodir provinsi.
Sedangkan tunjangan e-performance yang menjadi kewajiban pemkot, sesuai dengan fenomena yang ada, mengalami masalah dengan keuangan daerah.
“Kalau tunjangan profesi tidak ada masalah karena sekarang sudah pengumpulan berkas. Tapi tunjangan kinerja yang sangat kurang. Selain dilakukan pemangkasan hampir 60 persen, proses pencairan juga terkendala. Sebelumnya untuk tunjangan kerja saya mendapat Rp 3 juta. Setelah dilakukan pemotongan saya hanya menerima Rp 1,2 juta saja,” jelasnya.
Selain hal itu, yang juga menjadi sorotan adalah janji tidak akan ada pemotongan gaji jika cuti dan sakit hingga saat ini tidak berjalan sesuai janji.
“Ya kalau soal murid libur trus guru juga libur, dari dulu juga begitu. Nah, kalau cuti dan sakit tidak dipotong gaji, maka itu tidak terealisasi saat ini,” ungkapnya.
Komitmen wali kota akan menyediakan 1 laptop untuk 1 guru juga dinilai sebatas wacana yang hingga saat ini belum ada bayang-bayang realisasi.
Terpisah, Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bontang Titi Wudiyanti mengatakan, tidak dapat berbicara banyak soal komitmen yang diberikan wali kota.
Lantaran kebijakan bagi seluruh SMA, SMK, maupun MA sudah mengalami peralihan tanggung jawab ke pemerintah provinsi.
Soal pemberian seragam gratis diungkapkan senada dengan kepala sekolah lainnya. Sudah dilakukan pendataan untuk ukuran baju dan sepatu. Dari program tersebut, kata Titi, semoga bisa disambut gembira orangtua dan siswa.

