EKSPOSKALTIM.com, Samarinda - Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) pada tahun 2019 diprediksi tak mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Pemprov Kaltim tak mematok angka yang tinggi, sebab kondisi ekonomi Kaltim tahun depan masih fluktuatif dan belum stabil.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Pemprov Kaltim, Sa’bani menyatakan, dalam postur APBD tahun 2019 pemprov hanya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kaltim hanya sebesar 3,4 persen. Belum stabilnya harga jual batu bara menjadi alasan pemerintah lebih berhati-hati mematok target di tahun depan.
Baca juga: HUT ke-62 Provinsi Kaltim Usung Konsep Meriah Namun Tetap Sederhana
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Kaltim di tahun 2019, kemungkinan besar masih dipengaruhi oleh kegiatan pertambangan batu bara dan migas. “Perkiraan kami berdasarkan hasil evaluasi, pertumbuhan ekonomi naik. Tetapi tidak setinggi nasional,” katanya.
Pertumbuhan ekonomi Kaltim pada tahun 2018 ini hanya 2,4 persen. Lambannya pertumbuhan ekonomi tersebut dipicu karena masih fluktuatifnya ekonomi nasional dan belum stabilnya harga jual batu bara di Kaltim.
Pemprov, kata dia, memperkirakan pada tahun depan pertumbuhan ekonomi sekitar 3,5 persen. “Karena masih banyak faktor ekonomi yang belum mendukung yang bisa mendorong lebih banyak pertumbuhan ekonomi seperti yang sudah-sudah,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, salah satu faktor lambannya pertumbuhan ekonomi juga karena ketergantungan pada bahan bakar mineral. Selain itu, kata ia, ada banyak industri yang masih tertahan. Kendai demikian, menurutnya, geliat ekonomi selama setahun terakhir cenderung bergerak naik.
“Lima tahun ke depan, mungkin pada proporsi sharing kontribusi kepada PDRB (produk domestik regional bruto) itu lebih relatif seimbang, maka ekonomi akan lebih membaik lagi,” tuturnya.
Baca juga: Pupuk Kaltim Luncurkan Inovasi PreciPalm dan Petanipedia
Untuk prospek ekonomi ke depan, kata dia, Pemprov Kaltim mulai menggenjot potensi sumber ekonomi terbarukan. Misalnya, pengelolaan dan peningkatan energi terbarukan, seperti menghasilkan biodiesel. Hanya saja, saat ini diakuinya masih belum banyak dilakukan, karena Kaltim masih memanfaatkan biodiesel untuk crude palm oil (CPO).
“Perkembangan ekonomi di tahun depan, memang masih nampak pada sektor batu bara dan migas. Sawit masih gonjang-ganjing karena penolakan ekspor oleh Eropa (yang) kadang-kadang terjadi,” imbuhnya.
Adapun industri di Kaltim, baru sebatas mengelola CPO. Ia mengakui, belum ada yang mampu menghasilkan turunan lain dari produksi tersebut.
“Apalagi kondisinya CPO itu masih lebih banyak diekspor dan sebagian dikapalkan ke Pulau Jawa,” tukasnya. (*)
Video Terkini EKSPOS TV: Pangdam XIV Hasanuddin Pimpin Upacara Hari Juang Kartika 2018 di Bone
ekspos tv

