EKSPOSKALTIM.com, Kutim - Oktober 2019 menjadi bulan eliminasi kaki gajah (Belkaga), dengan melakukan pemberian obat pencegahan massal (POPM) penyakit tersebut. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berharap ini menjadi tahun terakhir pemberian obat secara massal.
Kepala Dinkes Kutim melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Muhammad Yusuf mengatakan, jika Kutim ingin bebas dari filariasis maka temuan pengidapnya harus di bawah satu persen.
Baca juga: Silaturahmi Forum Kebangsaan, Isran Minta Jaga Keharmonisan Masyarakat Kaltim
"Jika kita ingin bebas dari filariasis maka temuan harus di bawah itu, dan POPM pun tidak perlu dilanjut, tetapi jika temuan ada di atas satu persen maka POPM akan ditambah selama dua tahun lagi," terangnya.
Menurut Yusuf, pencegahan penyakit itu harus dimulai dari diri sendiri dengan menjalankan pola hidup sehat dan bersih. Karena jika lingkungan bersih, maka nyamuk filariasis tidak dapat berkembang biak.
"Sarang nyamuk harus bersih, rajin gunakan repelant, tidur pakai kelambu, usahakan kalau bepergian jangan sampai digigit nyamuk, dan jangan lupa minum obat yang telah disediakan pemerintah secara gratis,” jelasnya, Senin (2/9/2019).
Baca juga: IBI Kutim Gelar Pelatihan Midwifery Update
Selain itu, Kabid P2P meminta agar para camat mendirikan pos minum obat, yang bertujuan agar penerima obat langsung meminumnya di tempat pengambilan obat filariasis.
"Camat beserta Kades dan RT agar mendirikan pos minum obat, nantinya petugas kesehatan yang akan standby di sana. Hal ini kita lakukan agar penerima obat benar-benar meminum obat itu, dan jumlah temuan jadi menurun," pungkasnya.
Selain pemberian obat filariasis, juga akan diberikan obat cacing secara gratis.
Penyakit parasit tropis yang memengaruhi kelenjar limfa dan pembuluh limfa. Filariasis limfatik disebarkan oleh nyamuk yang terinfeksi, gigitan nyamuk ini menularkan parasit yang menuju sistem limfa manusia.(adv)

