PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Surga yang Terancam di ''Hidung'' Kalimantan

Home Berita Surga Yang Terancam Di '' ...

Surga yang Terancam di
HIJAU DAN RAMAH: Suasana kampung Teluk Sumbang yang begitu sejuk.

EKSPOSKALTIM - Berau. Teluk Sumbang merupakan satu dari enam desa yang ada di Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Kaltim. Memiliki luas 978.6 Km2, terdiri dari 135.61 Km2 daratan dan 842.99 Km2 lautan.

Di Teluk Sumbang, sekira 200 kepala keluarga hidup di sana.Kawasan pesisir yang berada tepat di “hidung” pulau Kalimantan ini, tidak sepenuhnya dihuni masyarakat suku Bugis. Berjalan 500 meter dari perkampungan pesisir, suku asli Kalimantan, Dayak Basap, bisa ditemui.

Awalnya, masyarakat Dayak Basap tinggal di gunung-gunung. Namun, sekira 13 tahun lalu, agama masuk dan menjamah suku tersebut.Sejak saat itu, kelompok Dayak Basap mulai berpindah ke kawasan pesisir pantai dan berbaur dengan masyarakat Bugis.

Rumah warga Dayak Basap mayoritas terbuat dari kayu. Namun, ada sembilan rumah yang diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah. Alas dan dindingnya berbahan material batako serta semen. Sedangkan atapnya, menggunakan seng.

“Masyarakat menyebutnya dengan rumah batu,” kata salah seorang warga Teluk Sumbang yang tak ingin namanya disebutkan, beberapa waktu lalu.

Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, warga Dayak Basap sangat bergantung pada alam. Hampir semua kebutuhan hidup berasal dari hutan. Seperti padi, sayur hingga buah-buahan, semua ditanam dan hidup liar di hutan sekitar Teluk Sumbang.

“Mereka menanam tidak menggunakan pupuk dari pemerintah (pupuk buatan, Red), semua asli dari alam,” selorohnya semangat.

Tak ada yang disia-siakan dari hasil alam Teluk Sumbang. Mulai dari akar sampai daun pohon, semua bermanfaat. Bahkan, untuk kesehatan, warga Dayak Basap juga mengandalkan hasil alam.

“Akar kuning salah satu obat yang sering digunakan oleh masyarakat asli. Obat ini mampu mengobati empat puluh jenis penyakit dalam. Seperti kanker, melancarkan pencernaan dan menurunkan kolesterol,” lanjutnya.

Konon, tambah dia, selain suku Dayak Basap, tak ada yang bisa menemukan akar kuning di Teluk Sumbang. Selain akar kuning, ada juga pohon Aju jawa (Kayu Jawa). Kulit pohonnya dimanfaatkan sebagai obat luka luar. Seperti, luka robek dan tergores. Bahkan, warga Dayak Basap juga menggunakan obat Aju jawa untuk mengobati hewan.

“Biasanya, juga digunakan untuk mengobati sapi,” tambahnya.
Untuk mengusir gelap di malam hari, rumah masyarakat dayak telah dilengkapi panel surya (Solar Cell) dan generator set (Genset).

Sebagian ada yang dibeli dari dompet pribadi. Sebagiannya lagi, didapat dari bantuan pemerintah. Namun, kedua alat tersebut tidak bertahan lama. Warga hanya menggunakanya dari jam 6 sore hingga jam 12 malam. Karena keterbatasan bahan bakar.

Dulu, cerita warga tadi, air sungai yang sangat deras pernah dimanfaatkan warga sebagai sumber penghasil listrik. Namun, turbin yang memutar air tidak berfungsi lama, alias rusak. Penyebabnya, air sungai bercampur dengan kapur dari batu gamping kawasan karst. Jadi, turbin tersebut macet karena tersumbat kapur.

“Sudah lama alat tersebut tidak berfungsi lagi,” sebutnya.

HIBURAN ALAMI: Bermain loncat tali menjadi hiburan bagi anak-anak suku Dayak Basap di kampung Teluk Sumbang.

TERANCAM RUSAK

Kekayaan alam yang dimiliki Teluk Sumbang memang banyak dan tak ada habis-habisnya. Seperti hutan kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat. Sudah banyak perusahan penambang semen yang mengantongi izin untuk mengeruk kawasan karst di Teluk Sumbang itu.

“Sudah ada lima perusahaan yang dapat izin menambang semen. Tapi baru Gawi Manuntung (perusahaan pertambangan batu gamping dan semen, Red) yang datang ke desa ini,” ungkap Badar, warga Teluk Sumbang.

Dia menyampaikan, warga telah bertekad, bahwa sesuatu yang merusak mata pencaharian, tidak akan diizinkan oleh warga. Contohnya sawit. Tak ada kebun sawit di Teluk Sumbang. Menurutnya, warga menolak sawit karena tahu dampak yang akan terjadi bila sawit ditanam.

Warga mencontohkan Desa Landas yang berjarak sekitar 2-3 jam dari kampung Teluk Sumbang menggunakan kendaraan bermotor. Kondisi Desa Landas kering. Sumber airnya hilang. Penyebabnya, kebun kelapa sawit telah “merajai” desa tersebut.

“Bila hulu rusak, maka hilir juga akan ikut rusak,” sahut warga lainnya.

Begitupun dengan tambang semen. Warga tidak akan membiarkan kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang telah banyak memberikan kehidupan sejak nenek moyang mereka itu, rusak.

“Kami akan terus menentang penambangan semen disini,” pungkasnya.

Ditulis oleh Jonri Panggabean dan Surya Aditya untuk EKSPOSKaltim.


Editor : Benny Oktaryanto
Tags :

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%34%0%67%
Sebelumnya :
Berikutnya :