19 Januari 2018
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!

Pilgub Sulsel, Pesta Demokrasi yang Penuh Kejutan


Pilgub Sulsel, Pesta Demokrasi yang Penuh Kejutan
Bagus Wawan Setiawan (Pemerhati Sosial dan Politik). (foto:istimewa)

EKSPOSKALTIM.com, Opini - Dalam Negara demokrasi, masalah demokrasi di tanah kebesaran kita ini masih tetap menjadi perbincangan hangat. Dalam hal sistem kita telah sepakat bahwa demokrasi kita adalah demokrasi pancasilais, yakni “pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat“. Hal ini memperlihatkan dengan jelas betapa besar kedaulatan di tangan rakyat. Namun yang terkadang menjadi soal dan kerap diperdebatkan adalah aspek pengejewantahan sistem demokrasi itu sendiri, bagaimana demokrasi pancasila itu sendiri terwujud dalam kehidupan bermasyarakat dalam membentuk tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Negara Indonesia adalah negara demokrasi pancasila. Hal ini secara eksplisit telah tergariskan dalam konstitusi negara kita dalam UUD 1945, dimana kedaulatan ada di tangan rakyat sebagaimana tertera dalam pasal 1 ayat 2 UUD 1945. Namun semua hal itu memiliki sebuah landasan yang jelas dalam kehadirannya. Hal ini yang dipilih oleh para pendiri Negara tercinta ini. Dengan menganut demokrasi pancasila, maka beberapa syarat pendukungnya seperti adanya partai politik. Partai – partai politik tersebut yang kemudian berfungsi sebagai komunikator antara pemerintah/penguasa dengan rakyat dan sebaliknya. Sudah jelas bahwa partai tersebut lebih dari satu atau multi partai, bahkan sebelumnya yang terjadi adalah dwi partai, namun sejalan dengan arus tntutan masyarakat yang semakin meningkat yang tidak terlepas dari efek pembangunan itu sendiri, dimana kondisi hari ini memperlihatkan banyak partai/multi partai, maka hal tersebut sangatlah wajar-wajar saja.

Negara kita ini memang berbeda soal paham demokrasi. Mungkin ada negara yang menganut paham demokrasi yang hampir sama dengan kita, tetapi dapat dipastikan hanya Indonesialah yang memiliki sistem demokrasi pancasila. Salah satu ciri dari demokrasi pancasila yakni pengambilan keputusan diutamakan musyawarah untuk mufakat, tidak mengenal dominasi mayoritas dan tirani minoritas. Demokrasi kita mengenal perbedaan pendapat, namun melalui musyawarah itu kita berusaha menyatukan pendapat, kalaupun pendapat tersebut tidak dapat dipersatukan lewat musyawarah, ada peluang untuk melaksanakan voting. Namun pihak yang kalah dalam voting harus turut bertanggung jawab atas keputusan yang berdasarkan voting tersebut. Inilah demokrasi pancasila kita.

Lantas mengapa pula, kita sering diadu domba soal perbedaan pendapat. Padahal perbedaan itu nyata adanya, dan dalam undang-undang itu dibenarkan. Hanya saja kita terlalu fanatik soal perdebatan yang meruncing ke pertengkaran. Cukup menerima perbedaan satu sama lain, persoalan benarnya, mari dibicarakan dengan baik, mengacu kepada demokrasi pancasila.

Sebuah hal yang tertulis di awal, sebagai pengingat kita soal demokrasi pancasila. Berbicara demokrasi, sedari dulu kita pahami bahwa dari rakyat untuk rakyat. Dalam beberapa bulan kedepan, salah satu momentum untuk melaksanakan amanat undang undang soal pemilihan langsung, atau lebih sering dibahas adalah pilkada serentak 2018. Ada beberapa daerah yang pelaksanaan pilkadanya dilaksanakan secara bersamaan. Memang tahun 2018 bukanlah tahun pertama pada pelaksanaan pilkada serentak. Dan sekarang setiap daerah yang akan melaksanakannya, baik itu tingkat kabupaten/kota atau provinsi, sudah mulai menunjukkan gerak yang dinamis untuk bersiap. Mulai dari pelaksana yaitu KPU (Komisi Pemilihan Umum), hal dasar yang dilakukan oleh penyelenggara, mulai dari data pemilih sampai membahas soal teknis. Jauh hari semua dipersiapkan untuk menyambut, katanya “pesta demokrasi”.

Tidak lepas, pengawas pemilu juga mulai mempersiapkan strategi untuk melakukan pengawasan pada pelaksanaannya. Selain itu, yang tidak kalah sibuknya adalah partai politik. Beberapa partai politik, dari beberapa bulan lalu memulai serangkaian verifikasi calon, atau melakukan metode lain seperti melakukan pendekatan. Karena aturan pilkada, selalu membutuhkan rekomendasi partai untuk seorang calon bisa mengikuti kontestasi pilkada. Tanpa partai sebenarnya masih ada jalan yaitu dengan jalur independen. Namun pengamatan selama ini, jarang ada calon yang meraih kemenangan lewat jalur itu. Tapi ada metode yang hampir sama dilakukan calon independen maupun partai, dengan menggunakan jasa survey, popularitas mampu dengan mudah untuk mendapatkan rekomendasi partai. Hal ini saya dapat dari seorang kawan yang aktif dan sudah malang melintang di dunia survey. Apalagi soal survey tokoh dan partai politik. Seakan survey menjadi sebuah acuan untuk mengusung calon.

Karena dekatnya pelaksanaan pilkada, saya ingin lebih berfokus pada calon pemimpin pada Pilgub Sulsel 2018. Sebuah kontestasi pilgub yang sangat menarik untuk dibahas. Selain saya yang merasa ini menarik, mungkin sebagian kawan-kawan yang sering melakukan kegiatan minum kopi di warkop, akan lebih sering membahas perkembangan soal Pilgub Sulsel kali ini.

Sejauh ini dari perkembangan di lapangan, sudah ada beberapa calon yang siap untuk bertarung di 2018 nanti. Kita coba mulai calon yang memberikan kejutan pasti, yang awalnya diragukan untuk bisa maju, namun di detik-detik terakhir ternyata memberikan sesuatu yang pasti. Pasangan calon ini adalah Prof Andalan (Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman.) Berbicara soal Nurdin Abdullah, untuk rakyat Sulsel bukan wajah baru dalam kancah perpolitikan Sulsel. Ia adalah Bupati Bantaeng, yang disebut-sebut mengubah Bantaeng menjadi kabupaten yang lebih baik dari sebelumnya. Kejutannya malah datang dari calon wakil gubernurnya Andi Sudirman Sulaiman, sosok muda yang dalam kancah politik daerah ataupun kancah nasional tidak pernah terdengar sebelumnya. Tetiba masyarakat Sulsel mendapat kejutan, sosok ini muncul sebagai pendamping dari Nurdin Abdullah. Yang melekat soal politik pada Andi Sudirman Sulaiman adalah ia adik Menteri Pertanian RI. Hal menarik lainnya adalah koalisi pengusung partai pada pilgub kali ini. Partai pengusungnya adalah Partai PDI-P, Gerindra dan PKS. Tentu kita semua belum lupa soal Pilkada Jakarta, dimana partai-partai ini bertarung sangat sengit untuk memenangkan masing-masing calon waktu itu. Sampai ada unjuk rasa dengan angka pelaksanaan yang cantik itu. Bukan hanya itu, hampir semua masyarakat Indonesia fokus pada Pilgub Jakarta yang telah berlalu itu. Jika di Jakarta dulu partai ini bertarung, kali ini mereka bersatu untuk mengusung salah satu calon. Itulah politik, semua akan berubah sesuai kepentingan masing-masing.

Calon kedua, yang saat ini akan kita bahas adalah NH-Aziz, pasangan calon yang sudah jauh memulai langkah mantap untuk maju dalam Pilgub Sulsel. Pengusung partai untuk saat ini, didukung oleh empat partai. Diantaranya, Golkar (18 kursi), PPP versi kubu Djan Faridz ( 7 kursi), Nasdem (7 kursi) dan PKPI (1 kursi). Hal ini sudah memenuhi syarat maju pada pilgub melalui jalur partai. Nurdin Halid, seorang Putra Sulsel, yang untuk kancah politik tidak asing secara nasional ataupun lokal. Sebagai ketua harian DPP Partai Golkar saat ini. Jargonnnya yaitu bangun kampung, ia pulang ke Sulsel untuk memperbaiki kampung halamannya dengan menjadi pemimpin daerah Sulsel. Soal kemampuan politik, tidak ada keraguan, buktinya ia mampu menjadi ketua harian partai besar seperti Golkar. Katanya pada dekalarasinya waktu lalu, “sama-samaki bangun kampung”. Sama halnya dengan wakil calon, yaitu ustadz Aziz. Beberapa kali pernah menjadi calon wakil dari bakal calon gubernur yang berbeda, namun mengalami kekalahan oleh petahana gubernur kali ini. Seorang yang dikenal dengan kesantunan dan seorang agamais. Soal politik, apalagi maju bertarung dalam Pilgub Sulsel, bukanlah hal baru baginya. Mendampingi Nurdin Halid kali ini, benarkah keinginan sedari dulu akan terwujud pada kontestasi tahun ini. Mari menanti gerakan bangun kampung.

Calon lain datang dengan kabar yang tidak biasa. Saya pun mendapat kabar ini dari grup WA, kabarnya menelusup dengan begitu cepat. Selain link beritanya, juga terdapat beberapa foto mobil truk yang berjumlah 40, mengangkut berkas .pasangan itu, IYL-Macakka (Ichsan Yasin Limpo-Andi Muzakkar). Dengan mantap memilih jalur independen pada pilgub sulsel kali ini, maka harus memenuhi syarat untuk menyetor KTP sebanyak satu juta. Tepat pada tanggal 26/11/2017, pukul 24.00 Wita, KPU Sulsel resmi menutup untuk pendaftaran jalur perseorangan. Dan sejak dibuka pendaftaran untuk jalur perseorangan sampai dengan ditutupnya, hanya ada satu calon yang mendaftar yaitu ICL-Cakka. Karena telah berakhir pendaftaran ini, maka KPU Sulsel akan fokus untuk verifikasi berkas. Waktunya hanya 14 hari untuk melakukan verifikasi. IYL ( Ichsan Yasin Limpo) bukan orang baru dalam kancah politik, menjabat sebagai bupati di Kabupaten Gowa selama dua periode. Selain itu, ia adalah adik dari petahana Gubernur Sulsel saat ini. Kalau soal wakilnya, juga tidak kalah hebat soal politik.Menjadi Bupati Luwu dua periode, sebuah hal yang luar biasa. Sangat menarik lewat jalur independen. Pasangan ini akan menjadi penantang yang patut untuk diperhitungkan.

Masih ada beberapa nama yang mencuat, seperti Agus Arifin Nu’mang. Ia wakil gubernur dua periode. Tentunya punya kans, jaringan untuk bisa meraup suara pada pilgub kali ini. Namun, kepastian untuk maju belum resmi. Padahal secara geopolitik, ia mampu untuk dengan mudah memiliki tim pemenangan yang solid, karena pernah melewati hal seperti ini dua kali. Selain nama Agus, ada juga seorang putra asli Sulsel, biasa disapa akrab Bro Rivai, sampai sekarang pun belum ada kepastian soal majunya dalam pilgub kali ini. Namun, dalam hal politik sampai detik terakhir semua bisa berubah, jadi mari menanti kejutan selanjutnya.

Pemimpin dan kepemimpinan sebagai salah satu elemen dalam sistem tersebut, memiliki peranan melakukan sebuah kebijakan dimana secara mendasar kebijakan itu sendiri berangkat untuk terciptanya sebuah dinamisasi yang terkait dalam berlangsungnya sistem tersebut, sehingga hal ini memperlihatkan akan betapa dominan, krusial dan kritikalnya peranan yang harus dimainkan oleh “sang pemimpin tersebut. Tidaklah mudah memberikan defenisi pemimpin dan kepemimpinan yang sifatnya universal dan diterima oleh semua pihak yang terlibat dalam sebuah kehidupan organisasional. Bahkan ada yang mengklaim bahwa jenis defenisi tersebut sama jumlahnya dengan pembuatnya. Akan tetapi, terlepas dari cara atau gaya membuat defnisi tersebut, benang merah yang terlihat ialah pengakuan akan pentingnya pemimpin yang efektif dalam mengoptimalkan potensi yang ada.

Maka dari itu, pada momen Pilgub Sulsel kali ini, haruslah semua elemen masyarakat ikut terlibat dan paham dengan perpolitikan yang begitu dinamis. Jangan sampai pilkada membuat kita terkotak-kotak, apalagi saling membenci karena pilihan calon. Mari menjadi pemilih rasional, yang tidak hanya menjadi pemilih instan dengan beberapa lembar rupiah. Momentum ini menetukan lima tahun kedepan. Kenali calonnya, pelajari rekam jejaknya dan pilihlah pemimpin yang akan membawa Sulsel menjadi provinsi, yang bisa mensejahterakan rakyatnya.

Oleh: Bagus Wawan Setiawan (Pemerhati Sosial dan Politik)

Tonton juga video-video menarik di bawah ini:

VIDEO: Cycling Tour Semarakkan Erau Pelas Benua Kota Bontang

ekspos tv

VIDEO: Diskominfotik Bontang Dapat Kunjungan dari Komisi Informasi Kaltim

ekspos tv

VIDEO: Pembukaan Pesta Laut Bontang Kuala 2017

ekspos tv

Reporter :     Editor : Abdullah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0