19 Oktober 2017
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!

Ancam Mogok Makan, Tuntut Kasus Korupsi Berjemaah DPRD Bontang Dituntaskan


Ancam Mogok Makan, Tuntut Kasus Korupsi Berjemaah DPRD Bontang Dituntaskan
Hamzah MD salah satu narapidana kasus tipikor ditemui awak media di Lapas Bontang, Kamis (12/10).

EKSPOSKALTIM, Bontang - Saat momentum HUT Kota Bontang yang ke 18 tahun, Kamis (12/10), dua narapidana kasus korupsi yang mendekam di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Bontang ancam mogok makan. 

Mereka ialah Hamzah MD, dan M Nurdin. Keduanya menutut agar beberapa rekan sesama anggota DPRD dan mantan wakil wali kota, dan sejumlah aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Bontang periode 2000-2004 agar segera diproses hukum.

 "Yang belum diproses hukum ada lima anggota DPRD Bontang periode 2000-2004 plus satu mantan wakil wali kota," ujar Hamzah seraya menunjukkan secarik salinan putusan pengadilan. 

Enam orang yang dimaksud ialah H Muslim Arsyad, Abdul Waris Karim, Rahmat Samidi, Martinus Daniel Baco, Abdul Malik, dan Adam Malik. Nama terakhir ialah mantan wakil wali kota pada periode yang dimaksud. 

Sesuai salinan putusan Pengadilan Negeri Bontang 28 September 2016 oleh Hakim Tipikor 25 anggota DPRD Bontang, termasuk Nurdin dan Hamzah terbukti melakukan korupsi berjemaah. 

"Kami juga meminta kepada penegak hukum melanjutkan kasus tersebut sampai tuntas  termasuk ASN yang sudah ditetapkan sebagai tersangka," sambung Hamzah. 

Ia mengatakan bahwa dirinya tidak sama sekali tidak menaruh dendam kepada yang lain. Langkah ini diambil semata demi mengharapkan adanya keadilan.

"Meski besok langit runtuh, keadilan harus tetap ditegakkan. Saya sudah menerima resikonya dipenjara sebagai orang yang membuka kasus ini dengan menjadi justice collabolator, namun persoalannya enam orang ini masih tersisa," ujarnya. 

Lebih lanjut, Hamzah yang masih menjalani masa tahanan hingga 4 tahun ke depan ini berharap agar penegak hukum dapat segera menyelesaikan kasus yang dianggapnya sudah terang benderang tersebut. 

“Saya ada niat, kalau tidak diselesaikan juga hingga akhir tahun ini. Saya akan puasa bicara selama seminggu dan namanya puasa ya tidak makan,” terangnya.

Meski begitu Hamzah menegaskan kalaupun ke depan hukum memvonis mereka bebas atau bahkan SP3 dirinya ikhlas. 

“Memang begitu hukum seperti kami ini divonis bersalah dan masuk penjara ya inilah hukum harus ikhlas menjalani,” sebutnya.

Senada, M Nurdin menambahkan harapannya agar Kejaksaan Negeri Bontang untuk lebih serius menuntaskan kasus ini.

“Saya hanya minta yang belum diadili untuk segera diadili, katanya korupsi berjamaah tapi kok nyicil. Oke lah nyicil tapi begitu selesai kami gimana yang lain kok tidak dilanjutkan,” sebutnya.

Lanjut Nurdin mengungkapkan, terlebih sejak dirinya hampir setahun menjalani hukuman terhitung sejak putusan 28 september 2016 tidak ada kelanjutan proses yang lain.

“Kami tidak mau mengajari itik berenang, tanpa diminta pun harusnya kejaksaan sudah bekerja namanya juga berjamaah. dia sudah tahu mengenai itu namun didiamkan ya saya anggap didiamkan Ada apa di balik itu,” bebernya.

Nurdin mengaku sebelumnya saat ada acara Lapas, dirinya sempat bertemu dengan Plt Kajari Bontang Agus Kurniawan. “Saya sudah sampaikan mengenai hal ini, jawabannya nanti akan kami pelajari. Pelajari apa, masak mau dipelajari bertahun-tahun,” terangnya.

Ia, berharap agar kasus ini dapat sesegera mungkin dilanjutkan apa lagi semua sudah tua, jangan sampai menunggu megidap penyakit lupa.

“Kalaupun benar terkendala karna sakit ya ngak papa, tapi harus benar-benar dipastikan dan diputuskan lewat keputusan pengadilan,” harapnya. 

Sekedar diketahui, skandal korupsi berjamaah ini menyeret 25 pimpinan dan anggota DPRD Bontang periode 2000–2004. Korupsi ini merugikan uang negara sebesar Rp 6,6 miliar.

Di mana dana pos anggaran tersebut meliputi pos asuransi jiwa Rp 1.977.300.000, perjalanan dinas Rp 89.439.200, biaya pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Rp 751.110.000 serta biaya sewa rumah anggota DPRD Rp 3.405.800.000.

Reporter : Maulana    Editor : Fariz Fadhillah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0