19 Oktober 2017
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!

Halangi Tugas Wartawan, 7 Petugas Keamanan Bandara SAMS Balikpapan Terancam Pidana


Halangi Tugas Wartawan, 7 Petugas Keamanan Bandara SAMS Balikpapan Terancam Pidana
Ketua AJI Balikpapan Novi Abdi

EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Tindakan tujuh petugas keamanan bandara atau aviation security (avsec) Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (SAMS) Balikpapan yang menghalang-halangi peliputan salah seorang jurnalis TV nasional, Mirwan Hidayat berbuntut panjang. 

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Balikpapan mengaku siap membawa kasus ini ke ranah hukum. Itu dilakukan jika pihak PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara bertaraf internasional itu tak mengusut tuntas provokasi yang dilakukan tujuh petugas itu kepada Dayat. 

Jika terbukti benar, AJI mendesak Angkasa Pura melayangkan permohonan maaf secara terbuka. Baik kepada Dayat, maupun komunitas jurnalis Indonesia.

"Sebagai organisasi profesi jurnalis, AJI Balikpapan mengecam tindakan para petugas avsec yang melakukan provokasi ke keluarga untuk keberatan atas liputan yang dikerjakan saudara Mirwan Hidayat yang berujung penghapusan rekaman hasil kerja saudara Dayat," ujar Novi Abdi Ketua AJI Balikpapan, Selasa (10/10).

Pria berambut gimbal ini mengatakan, perbuatan tersebut melanggar hukum seperti tercantum pada sejumlah pasal Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999. Pasal 18 ayat 1, bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta. 

Pasal 4 ayat (2) menjelaskan, terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran. Dan ayat (3) adalah, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. 

Seorang jurnalis berhak melakukan kegiatan jurnalistik. Yaitu mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dalam segala bentuknya. "Dalam melaksanakan profesinya, jurnalis mendapat perlindungan hukum sesuai Pasal 8," sambung Novi.

Tindak provokasi sendiri terjadi saat Dayat tengah meliput salah seorang penumpang Lion Air tujuan Balikpapan yang meninggal dunia dalam pesawat, Sabtu (7/10) sore. 

Berita Terkait: Seorang Penumpang Tujuan Balikpapan Meninggal dalam Pesawat

Sepanjang melakukan tugasnya, kata Novi, Dayat berada di ruang publik terbuka Bandara SAMS Balikpapan. Pada umumnya tidak diperlukan izin khusus untuk meliput di kawasan terminal bandara sampai batas yang dijaga secara khusus oleh avsec seperti counter check in dan gerbang keberangkatan, hingga kawasan apron.  

Selain itu, informasi yang diterima, pihaknya memastikan Dayat mengenakan atribut yang menjelaskan dia sebagai jurnalis. "PT Angkasa Pura II harus menjamin peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi di masa depan," kecamnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Humas Angkasa Pura (AP) I, Rio Hendarto yang dihubungi oleh media ini.  

Kronologis Kejadian

Pada Minggu 8 Oktober 2017 sekira pukul 18.00, Mirwan Hidayat datang ke Bandara SAMS Balikpapan. Ia bermaksud meliput dan mengonfirmasikan peristiwa penumpang yang tewas dalam penerbangan Lion Air ke Balikpapan.

Informasi yang diterima, penumpang itu akan dijemput melalui terminal keberangkatan di lantai 3. Ia menuju ke tempat itu. Dayat melihat ambulans Yayasan Kasimo terparkir di depan terminal itu. Ia menyapa Yoseph, sopirnya. Ambulan itu akan digunakan untuk menjemput penumpang yang meninggal tersebut.

Dayat pun mulai merekam situasi di sekitar ambulans melalui HP pribadinya. Walau belum tahu pasti, Dayat menduga beberapa orang yang ada di dalam frame rekamannya di sekitar ambulans adalah keluarga dari penumpang yang meninggal tersebut.

Tiba-tiba handphone Dayat kehabisan daya. Ia bergegas ke counter Telkomsel di dalam terminal untuk menumpang mengisi baterai handphone-nya.

Saat sedang menunggu pengisian baterai tersebut, seorang petugas avsec datang dan memintanya keluar. Dayat lalu digiring untuk menemui keluarga penumpang meninggal tersebut.

Dengan dikelilingi 6 petugas Avsec, Dayat menyaksikan keluarga diprovokasi oleh para petugas Avsec untuk keberatan atas liputannya. Karena provokasi itu, akhirnya keluarga itu meminta Dayat menghapus rekaman yang sudah dibuatnya.

Dayat yang tertekan menyerahkan HP untuk membukakan file tempat ia menyimpan rekaman, dan menyilakan keluarga itu menghapus sendiri. Keluarga itu melakukannya, menghapus rekaman dari HP Dayat. 

Setelah itu, rupanya masih ada provokasi lanjutan dari petugas avsec yang menduga Dayat masih menyimpan rekaman lain. Sampai di sini, Dayat baru sadar bahwa handphone tersebut adalah otoritas dan privasinya. Ia mengambil kembali HP dan menolak permintaan para avsec.

Merasa dilawan, para Avsec yang sudah menjadi 7 orang memaksa Dayat untuk dibawa ke pos Avsec. Dayat  menolak. Keadaan berubah setelah seseorang menelepon Dayat, minta berbicara kepada petugas, dan menyatakan bila mengganggu lebih jauh akan berimplikasi hukum. Para Avsec mundur, dan akhirnya melepaskan Dayat pergi.

Sebelumnya ada pernyataan maaf dari kedua belah pihak. Dayat juga meminta maaf kepada keluarga. Menurut Dayat, yang menelepon tersebut merupakan rekannya sesama jurnalis TV nasional di Balikpapan. 

Reporter : Maulana    Editor : Fariz Fadhillah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0