19 Agustus 2018
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Impian Bergabung Real Valladolid Tersandung Biaya, Belum ada Sponsor, Inisiatif Galang Donasi


Impian Bergabung Real Valladolid Tersandung Biaya, Belum ada Sponsor, Inisiatif Galang Donasi
Bryan berpose di depan camp pendidikan Akademi Real Valladolid di Spanyol Mei 2016 silam. (Dok Pribadi).

Indonesia sejatinya memiliki banyak talenta muda berbakat dalam memainkan si “kulit bundar”. Ada yang dipinang dan mulai mengasah bakatnya ke Eropa. Ada pula yang masih harus bermimpi. Hilarius Bryan Pahalatua Simbolon yang asal Bontang salah satunya.

EKSPOSKALTIM, Bontang- Bocah kelas 3 Sekolah Dasar Yayasan Pupuk Kaltim (SD YPK) itu asyik memainkan si kulit bundar bersama teman-temannya. Ekstrakurikuler sepak bola memang menjadi pilihan Bryan, sapannya. 

Di sela belajar, bocah 10 tahun itu selalu menyempatkan bermain sepak bola. Hobinya itu terus berlanjut. Sekadar melakukan hal yang disukai anak seusianya saat itu.

Bakat bungsu dari pasangan Assen Simbolon (55) dan Debora Devitaria (50) Sinaga itu mulai terlihat dua tahun berselang. Sang ayah, membelikannya sepatu dan mendaftarkannya ke Akademi Sepak Bola (ASB) Pelangi Mandau. Akademi tersebut merupakan milik salah satu legenda sepakbola Indonesia,  Fachri Husaini.

Talenta Bryan semakin diasah. Fachri Husaini meyakini anak Batak kelahiran Bontang, 13 januari 2001 ini akan menjadi pemain hebat.

“Sepak bola sudah menjadi darah dan jiwa saya” kata Bryan, saat berbincang ringan di Kantor Ekspos Kaltim di Jalan HM Ardans, Satimpo, Kecamatan Bontang Selatan, Rabu (7/6) malam.

Pelbagai turnamen menjadi ajang pembuk tian Bryan dengan sederet prestasi level kota bahkan provinsi. Aura bintang siswa kelas X SMA YPK ini semakin bersinar setelah menjuarai Singa Cup 2015 bersama Tim U-14 Bontang.

Turnamen yang diikuti negara-negara di Asia-Australia itu menjadi momen spesial bagi pemuda yang kini duduk di bangku kelas X SMA YPK ini. Prestasi tim juga diikuti torehan cemerlang sebagai pemain. Bryan menjadi top skor pada turnamen yang dihelat di Singapura.

Sebagai kapten tim, Bryan mengemas 17 gol. Lebih baik dari ajang sama pada 2013 yang saat itu membawa Tim U-12 Bontang sebagai runner-up. Di samping mengharumkan nama Bontang, juga membuat bangga Indonesia di ajang internasional.

“Sangat bangga bisa menjadi juara di Singa Cup yang menjadi momen spesial bagi saya. Saya memiliki mimpi yang besar untuk menjadi atlet sepak bola dunia,” tegas dia.

Penampilan cemerlang Bryan di Singa Cup rupanya dilirik agen pencari bakat. Arafin Daswandi, salah satu pencari bakat asal Singapura yang mengajak Bryan trial and training di Akademi Real Valladolid, Spanyol.  

Pintu mewujudkan mimpi menjadi atlet sepak bola dunia terbuka lebar.  Meski tawaran itu sempat menjadi pertimbangan karena berbenturan dengan sekolah.

Atas restu kedua orangtuanya, ia memutuskan berangkat menimba ilmu di mantan klub Diego Costa itu pada Mei 2016.

“Selama 7 hari saya ikut uji coba latihan bersama Real Valladolid, rasanya seperti mimpi salam saya berada di sana. Proses latihan sepak bola yang diberikan hampir sama seperti yang saya dapat di Bontang, hanya saja yang membedakan rata-rata individu memiliki kualitas dan tekad yang luar biasa,” ujarnya.  

Bakat besar Bryan mendorong akademi memberikan surat rekomendasi untuk melanjutkan latihan selama 1 tahun melalui  International Program Real Valladolid. 

Internasional Program Real Valladolid adalah program pendidikan bagi calon atlet dari seluruh belahan dunia yang direkomendasikan para pencari bakat kepada manajemen Real Valladolid. Ini kesempatan besar, saya sangat ingin sekali masuk dalam akademi itu,” harapnya.

Asa Bryan nampaknya masih diuji.  Ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi memaksa Bryan menunda keinginannya untuk berangkat ke Negeri Matador.

Untuk mengikuti pendidikan di sana, Bryan harus mempersiapkan dana sebesar 1400 euro atau sekitar Rp 21 juta per bulan.

Dan jika diakumulasi selama menempuh pendidikan 1 tahun, ia harus mempersiapkan uang sebesar 16.800 euro atau sekitar Rp 230 juta.

Mimpinya masih harus diuji. “Saya sudah coba meminta usulan bantuan dana kepada pemerintah, khususnya kepada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Bontang. Namum sampai saat ini belum ada tanggapan, sempat berupaya menemui wali kota, tapi belum ada kesempatan,” katanya.

Asa Bryan masih terus dipupuk. Kini, atas inisiatif pribadi dan dorongan keluarga, ia mencoba mengumpulkan donasi melalui postingan di laman Facebook pribadinya. Bryan menyebut baru Rp 11 juta yang terkumpul.

Meski terus diuji, asa Bryan menjadi pemain profesional nan mendunia masih tinggi. Setinggi cita-citanya membawa sepak bola Indonesia ke pentas dunia.

 

Reporter : Slamet Riyadi    Editor : Benny Oktaryanto

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0